Tradisi lisan merupakan sebuah disiplin ilmu yang menitikberatkan pada aspek kelisanan dalam merangkum budaya dan kehidupan manusia. Jauh sebelum media cetak hadir, lebih lama sebelum tulisan muncul, dan lebih purba sebelum media tulis kuno digunakan, manusia berkomunikasi secara lisan. Mereka hidup bergelimang keindahan syair dan hikayat yang didendangkan dengan indah. Melalui tradisi kelisanan tersebut, mereka membentuk tata kehidupan.
Kemunculan mantra, permainan tradisional, pertunjukan tradisional, serta tata cara menghargai daur ulang hidup melalui ritual-ritual menjadi berarti dan diwariskan secara turun temurun hingga saat ini melalui lisan. Hingga saat ini, segala hal yang berkaitan erat dengan lisan tersebut, akan berkurang maknanya jika harus diwariskan menggunakan tulisan. Seperti mantra yang kehilangan magisnya, begitulah kira-kira jika kesakralan dalam sebuah tradisi harus dipenjarakan dalam sebuah tulisan dan diperbanyak melalui teknologi mesin pencetak dan pengganda.

Namun satu hal yang perlu untuk diingat, kelisanan tidak memiliki kekuatan sebagaimana tulisan. Memori manusia yang payah dan kepentingan dibalik individu ataupun kelompok kerap kali menjadi salah satu alasan banyaknya pergeseran nilai dan bentuk dalam tradisi lisan. Oleh karena itu, perlu adanya keilmuan khusus yang menjaga keutuhan nilai dan bentuk tersebut dengan menggali secara akademik sehingga bisa dibuktikan dengan data yang empiris.
