Tata kamera masih saja mengandalkan teknik mengagetkan (jump scare) sebagaimana film horor pada umumnya. Teknik semacam ini membosankan, kecuali saat kamera mengarah pada foto almarhum Suzanna Martha Frederika van Osch. Setiap kali kamera mengarah ke foto yang terpajang itu, saya merinding. Mungkin, karena di dunia nyata, legenda dalam sejarah film horor Indonesia itu memang benar-benar sudah meninggal dunia.
Di bagian tata suara juga tidak ada yang baru. Permainan musik yang keras tiba-tiba dan cekikikan khas Suzzanna juga masih diandalkan untuk menghadirkan suasana mencekam.

Sedangkan dalam tata artistik, saya menemukan anakronisme di mana-mana. Menurut keterangan di awal film, kisah ini terjadi pada Mei 1989, 32 tahun lalu. Latar ini awalnya meyakinkan saya ketika kamera menampilkan Morris 1951, mobil milik Satria. Namun, setelah itu, imajinasi saya langsung hancur ketika menyaksikan rambut para pemain. Model rambut Jonal dan Satria, misalnya, terlihat seperti model rambut cowok milenial. Belum lagi model celana yang dipakai keduanya, juga tokoh pria lainnya. Kalau tidak melihat keterangan tahun di awal film, penonton akan merasa kisah dalam film ini terjadi seminggu sebelum film ini ditayangkan di bioskop.
Film ini juga beberapa kali kehilangan logika cerita, salah satunya ketika warga kampung membakar rumah Suzzana. Dari mana warga kampung tahu kalau Suzzanna menjelma sundel bolong padahal mereka belum tahu bahwa Suzzanna sudah mati? Padahal, Suzzanna tidak menghantui warga kampung. Sebelumnya juga tidak terlihat ada interaksi antara Umar dengan warga kampung, tapi kenapa tiba-tiba Umar bisa memprovokasi warga kampung hingga mereka berduyun-duyun membakar rumah Suzzanna? Apakah karena Suzzanna tidak ikut sembahyang Subuh berjamaah sebagaimana biasa, lalu penduduk bisa langsung menyimpulkan Suzzanna mati dan jadi hantu? Sungguh tidak logis!
Tapi, ini juga gambaran kebudayaan kita akhir-akhir ini. Masyarakat kita adalah masyarakat yang mudah diprovokasi oleh oknum yang bahkan belum mereka kenal. Dengan mudah Umar bisa menghasut warga kampung untuk membakar rumah Suzzanna dan Satria. Tanpa tabayun terlebih dahulu, warga kampung pun bergerak bersama-sama penuh kemarahan. Dalam adegan ini, kita juga bisa melihat kecenderungan masyarakat kita yang suka menyelesaikan persoalan dengan cara main hakim sendiri. Sebuah gambaran tentang musnahnya budaya berpikir sebelum bertindak.
Dalam film ini memang tidak ada lagi pemuka agama semacam kiai atau ustaz yang dikerdilkan peran sosialnya sebagai pengusir hantu atau setan sebagaimana sering kita lihat dalam film-film horor di Indonesia. Namun, Suzzanna masih saja kepanasan saat mendengar ayat-ayat Al-Quran. Penulis skenario atau sutradara sepertinya malas berpikir atau kebingungan mencari alternatif lain yang lebih cerdik, serta logis, untuk meyakinkan Satria bahwa Suzzanna sudah mati dan menjelma arwah gentayangan.
Akhirnya, sebagaimana selalu dipakai dalam film-film horor Indonesia, kitab suci masih saja dijadikan pilihan utama untuk menggambarkannya. Suzzanna menjerit berlari kepanasan hingga kaca jendela rumah mereka berantakan saat Satria melantunkan ayat-ayat Quran di hadapannya. Sungguh dramatis, meskipun tidak logis, dan terkesan mimesis.
Apakah kitab suci diturunkan ke muka bumi hanya untuk membuat hantu-hantu kepanasan ataukah sebagai pedoman bagi manusia untuk menjalani kehidupan? Adegan ini memberi kita gambaran bahwa agama, khususnya kitab suci, masih dipahami secara dangkal oleh sebagian sineas kita.
Kedangkalan film ini dalam memaknai agama juga tampak pada kesalehan Suzzanna dan Satria yang dicitrakan melalui adegan rajin sembahyang berjamaah dan mengaji Quran. Di sini pula ketidakkonsistenan itu berada. Sebagai orang yang taat beragama, kalau pun harus mati dengan cara mengenaskan, mestinya Suzzanna tidak jadi arwah gentayangan, apalagi bangkit sebagai sundel bolong untuk balas dendam. Dalam eskatologi Islam (sebagaimana agama yang dianut Suzzanna dan Satria dalam film tersebut), tidak ada konsep manusia bereinkarnasi menjadi hantu, apalagi menjelma sundel bolong. Dan sebagaimana dalam ajaran agama apa pun, balas dendam juga dilarang dalam Islam.
Namun narasi tersebut sebenarnya juga potret keberagamaan masyarakat kita hari-hari ini. Seolah-olah agamais, tapi kapan pun bisa berperilaku bengis. Maka jangan heran kalau Suzzanna yang awalnya terlihat salehah, akhirnya bisa begitu keji membunuh manusia lain demi melampiaskan dendam kesumatnya. Begitu juga warga kampung, yang sebelumnya rajin sembahyang berjamaah, akhirnya kalap dan main hakim sendiri saat membakar rumah Suzzanna dan Satria.

Terima kasih tulisannya bank
Resensi film, mantab dah pokoknya!