Menunggu Ratu Adil, yang Datang Suzzanna

Dari sisi politis, film ini mengerdilkan peran dan perjuangan kaum buruh dalam menuntut haknya. Kaum buruh, melalui tokoh Jonal dan kawan-kawannya, dicitrakan sebagai sekelompok orang yang tamak. Padahal, dalam kehidupan nyata, justru pemodal atau pemilik perusahaanlah yang tamak dan bertindak semena-mena terhadap kaum buruh. Buktinya, hingga hari ini, buruh di Indonesia masih belum sejahtera. Upah minimum regional di tiap daerah pas-pasan untuk menunjang beban hidup mereka dan keluarganya. Ketimpangan sosial dan ekonomi terus terjadi akibat regulasi-regulasi perburuhan atau ketenagakerjaan yang tidak berpihak kepada mereka.

Tidak hanya dangkal dalam memaknai agama dan realitas ekonomi-politik, film ini juga dangkal dalam memahami budaya. Kearifan lokal masih saja dicitrakan sebagai ajaran sesat. Ini bisa kita saksikan pada sosok Mbah Turu (Norman R. Akyuwen), seorang dukun yang membantu niat jahat Jonal dan Umar untuk menghabisi hantu Suzzanna beserta Satria.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan kemenyan, keris, juga kidung Rumekso ing Wengi gubahan Sunan Kalijaga (yang lagi-lagi membuat hantu Suzzanna menjerit kepanasan), Mbah Turu yang gondrong dan berpenampilan awut-awutan digambarkan sebagai penganut ilmu hitam yang kejam sekaligus mata duitan. Padahal kemenyan, keris, juga tembang tidak berkonotasi kepada hantu atau setan. Ketiganya adalah medium yang dipakai manusia-manusia Nusantara untuk menyambungkan batin mereka kepada Tuhan sekaligus menjaga ikatan kosmologisnya dengan alam. Sebegitu picisankah film ini memaknai instrumen-instrumen kebudayaan kita?

Untuk mengesankan cinta pasangan muda ini abadi dan bahagia, Satria pun dibikin terbunuh di akhir cerita. Pertanyaan saya, kenapa Satria harus mati? Hanya dalam atau dengan kematiankah manusia bisa meraih kebahagiaan? Tidak bisakah Satria dibiarkan tetap hidup lalu menjalani kebahagiaan tanpa harus ikut mati bersama Suzzanna? Kenapa mati menjadi solusi terakhir untuk bahagia? Sampai di sini, tiba-tiba saya teringat kepada para pelaku bom bunuh diri di berbagai tempat demi mendapatkan sekeping surga yang diidamkan.

Film ini juga gagal menampilkan realitas sosial masyarakat kita. Absennya penegak hukum ketika terjadi kekacauan di tengah-tengah masyarakat menjadi indikatornya. Tidak hanya dalam peristiwa pembakaran rumah Suzzanna dan Satria, polisi juga tidak ada ketika Dudun dan Gino terbunuh. Padahal keduanya mati di tempat umum: di pabrik dan di asrama pekerja. Dudun mati mengenaskan karena terlilit gulungan tali ketika lari dari bayang-bayang Suzzanna, sementara Gino tewas setelah Jonal menusuknya berkali-kali karena mengiranya hantu sundel bolong itu.

Sebegitu lalaikah polisi kita? Mengapa tidak ada seorang pekerja pun yang melapor ke polisi atas terbunuhnya Gino atau Dudun? Sebegitu naifkah warga kampung, hingga tidak ada satu orang pun yang waras, lalu mencegah agar warga lainnya tidak main hakim sendiri dalam peristiwa pembakaran rumah Suzzanna dan Satria? Atau, lagi-lagi, inikah potret mutakhir dari kebudayaan kita? Atau inikah kritik untuk aparat dan penegakan hukum di negeri ini?

Situs Filmindonesia.or.id mencatat, film Suzzanna Bernapas dalam Kubur meraih 3.346.185 penonton. Film ini pun menjadi film Indonesia terlaris kedua pada tahun 2018. Gejala apa ini? Kenapa masyarakat kita suka menonton film berisi aksi-aksi balas dendam dengan adegan-adegan bertabur kekerasan dan kekejian?

Film ini dirilis pada 15 November 2018 di bioskop-bioskop se-Indonesia. Saat itu, situasi sosial-politik bangsa ini sedang meriang akibat demam Pilpres 2019. Dengan capaian penonton sebanyak itu, jangan-jangan itu cara masyarakat kita mencari hiburan untuk menghindari kisah horor di luar bioskop. Apa itu? Politisasi agama dan identitas, rasialisme, sumpah serapah cebong dan kampret yang mengotori media sosial, penegakan hukum dan hak asasi manusia yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, korupsi wakil rakyat dan pejabat negara yang tak sudah-sudah, juga kepalsuan yang diumbar elite politik dalam acara debat-debat politik di televisi.

Film Suzzanna Bernapas dalam Kubur menjadikan kekerasan sebagai komoditas, dan masyarakat kita pun membelinya, sebagai cara termurah untuk melarikan diri dari realitas. Film-film semacam ini, bagi saya, tidak mendidik karena membuat masyarakat kita semakin banal terhadap kekerasan. Lihat saja bagaimana orang-orang begitu mudah menyebarkan foto atau video-video kekerasan di media sosial. Kalau situasi ini terjadi terus-menerus, masyarakat kita akan mengidap masokhisme kebudayaan: gemar melihat tindakan kekerasan atau aksi-aksi kekejian, yang akhirnya dapat mempengaruhi alam bawah sadar mereka untuk melakukan hal yang sama di kemudian hari. Sungguh, ini sangat tidak sehat bagi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.

Film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tapi juga media komunikasi massa yang berpengaruh langsung terhadap perubahan dan pergeseran budaya sebuah bangsa. Bahasa atau simbol-simbol di dalam film membawa nilai-nilai dan pesan bagi penontonnya. Nilai dan pesan ini berdampak terhadap pengembangan atau pengerdilan potensi diri, pencerdasan atau pembodohan generasi. Dengan propaganda dan peran-peran strategis yang dimiliki film itulah kita butuh film-film bagus.

2 Replies to “Menunggu Ratu Adil, yang Datang Suzzanna”

Tinggalkan Balasan