Menyoal Posisi Khazanah Keislaman Klasik

Perbedaan di ranah eksoterik fikih ini luluh dalam agama cinta Ibn Arabi. Lewat tasawuf falsafinya, Ibn Arabi membuka tirai dan menghapus sekat di antara para pemeluk agama yang berbeda. Sebagaimana Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi menyuarakan pendapat serupa. Bahwa visi pokok ajaran agama adalah cinta dan kasih. Kerap kali dikatakan bahwa di antara murid-murid Rumi terdapat orang-orang Nashrani dan Yahudi. Apa yang dirintis Ibn Arabi dan dilakukan Rumi adalah jalan untuk menampilkan keramahan agama.

Agama yang terus-menerus dikampanyekan dengan jalan teror dan kekerasan akan kehilangan simpati dari pemeluk agama itu, apalagi dari orang lain. Sementara agama yang direklamekan dengan cinta, maka ia akan mengundang selera. Sejarah agama-agama menunjukkan perihal naik dan turunnya pamor satu agama. Bahkan, ada agama yang telah ribuan tahun hidup kemudian hilang ditelan bumi. Tentulah pasti ada berbagai faktor kenapa agama-agama itu tak lagi diminati dan tak dipilih masyarakat. Sisi lain, di samping karena ketidakmampuan agama untuk beradaptasi dan bernegosiasi dengan lingkungan sosial baru, faktor para juru kampanye yang suka menebar tafsir kebencian dan menghalalkan kekerasan akan turut memerosokkan reputasi agama itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di Mana Posisi Akal

Ajaran Islam tak ditujukan kepada anak-anak, melainkan kepada manusia dewasa yang memiliki kemampuan rasional utuh. Dengan akalnya, manusia bisa menentukan yang baik dan yang tidak. Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi pernah berkata, “Wahai saudara, engkau adalah pikiran itu sendiri, dirimu selebihnya bukanlah apa-apa kecuali otot dan tulang”.

Menurut Ibnu Bajjah, berpikir adalah fungsi tertinggi manusia. Berpikir akan mengantarkan manusia berjumpa dengan Tuhan sebagai Sang Akal Aktif. Ibnu Tufail misalnya dalam novel filsafatnya, Hayy ibn Yaqzhan, mengisahkan seorang anak yang dibuang ke pulau kosong. Ia diasuh hewan dan dididik alam. Di tengah rimba itu, dengan akalnya yang masih berfungsi, ia bisa berfilsafat dan berteologi, dan akhirnya bisa menyatu dengan Tuhan. Apa yang dikatakan para filosof itu paralel dengan apa yang ditegaskan Al-Qur’an. Bahwa, Allah telah mengilhamkan kepada manusia suatu kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Akal yang dimiliki manusia merupakan anugerah Allah paling berharga. Ia tak hanya berguna untuk mencapai pemahaman yang mendalam tentang yang baik dan yang buruk, tapi juga untuk menafsirkan kitab suci. Tanpa akal, kitab suci tak mungkin bisa dipahami.

Menurut Ibn Rusyd, dalam agama, akal berfungsi untuk menakwilkan kitab suci ketika teks kitab suci tak bisa dikunyah akal sehat. Maka benar ketika para ulama menyepakati bahwa kebebasan berpikir (hifzh al-aql) termasuk salah satu pokok ajaran Islam (maqashid al-syari‘ah). Dengan demikian, seharusnya Islam lekat dengan kebebasan berpikir.

Konon, Imam Syafii pernah ditanya salah seorang muridnya tentang tafsir agama yang bertentangan dengan akal, maka Imam Syafii memerintahkan untuk mengikuti petunjuk akal, karena akal punya kemampuan untuk menangkap kebenaran.

Tinggalkan Balasan