Merawat yang Tidak Terlihat

Ada satu tradisi kecil yang dulu diajarkan orang tua kami saat Idulfitri. Sederhana. Tapi bermakna: silaturahmi ke tetangga.

Bukan sekadar formalitas. Bukan juga karena ada kepentingan. Tapi karena memang itu yang seharusnya dilakukan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dulu, di kampung, hak itu biasa. Hampir semua orang melakukannya.

Sekarang? Kami tinggal di kota. Di perumahan yang rapi, nyaman, namun terkadang sunyi secara sosial. Orang saling tahu. Tapi tidak selalu saling kenal.

Baha Memperlihatkan Mainan Dinosaurus Hasil 'Lebarannya"
Baha Memperlihatkan Mainan Dinosaurus Hasil ‘Lebarannya”.

Tradisi saling mengunjungi antartetangga di momen Lebaran itu pelan-pelan menghilang. Tapi entah kenapa, kami merasa perlu menjaganya. Bukan untuk kami. Tapi untuk anak-anak kami.

Menghidupkan yang Tersisa

Hari itu, kami memutuskan untuk anjang sana, anjang sini. Bersilaturahmi ke beberapa tetangga di sekitar rumah. Tidak banyak. Tidak semua. Tidak jauh. Tapi cukup.

Kami ajak Ziddin, anak pertama kami yang duduk di kelas 7 MTS. Kami ajak juga Baha—yang usianya baru empat tahun, dengan segala keluguannya yang kadang di luar nalar.

Orang Jawa dulu punya istilah: galak gampil. Yang awalnya galak, bisa jadi gampil—mudah melunak. Mungkin itu salah satu hikmahnya. Silaturahmi itu mencairkan yang beku. Mendekatkan yang jauh.

Dan hari itu, kami melihatnya dengan cara yang tidak kami duga. Prilaku anak PAUD yang unik dan menarik

Modus Pertama: Ayunan Pak Eko

Yang pertama kami ketuk pintunya rumah Pak Eko. Tetangga samping rumah.

Di sana ada ayunan kecil. Juga perosotan kecil. Dan seperti yang bisa ditebak, fokus Baha langsung berubah. Dari silaturahmi menjadi eksplorasi.

Awalnya kami pikir, ya sudah, biarkan sebentar. Ternyata, tidak sesederhana itu. Dia tidak mau pulang. Waktu terus berjalan. Azan Isya hampir terdengar. Alasan demi alasan keluar—yang entah dari mana logikanya.

Kami mulai merasa tidak enak. Sampai akhirnya, Bu Yuni—istri Pak Eko—justru menawarkan, bahkan sedikit “memaksa”, “Sudah, dibawa saja ayunannya.”

Kami kaget. Sekaligus tersentuh. Saya lalu minta Baha untuk pinjam sendiri.

Dan di situlah momen kecil yang tidak akan kami lupa terjadi. Baha mengajukan jari kelingkingnya. Tanda janji. Bu Yuni tersenyum. Mengajukan jari kelingkingnya juga.

Dua jari kecil yang saling mengait. Sebuah perjanjian sederhana. Tapi hangat. Kami tertawa.

Rumah Kedua: Tanpa Basa-basi

Berlanjut ke rumah Abah Suryadi. Jemaah masjid dekat rumah. Yang oleh tetangga sering dianggap seperti “Bapaknya Baha”.

Begitu masuk, tanpa aba-aba, tanpa basa-basi, Baha langsung membuka permen gummy. Seolah-olah itu rumahnya sendiri. Selesai permen, lanjut ke jelly. Kami hanya bisa saling pandang. Antara malu dan lucu.

Tapi yang menarik, tidak ada yang merasa terganggu. Justru di situlah kehangatan itu terasa.

Bahwa ada ruang di mana anak kecil boleh menjadi dirinya sendiri, tanpa kehilangan sopan santun yang pelan-pelan sedang dibentuk.

Rumah berikutnya, Pak Yunus. Di sini, tantangannya naik level. Ada koleksi mainan. Lengkap. Menggoda.

Baha mulai “scanning”. Dari onta ke mobil. Lalu berhenti di satu titik: dinosaurus.

Seperti biasa, strategi dijalankan. Main ke belakang. Lihat-lihat kolam ikan. Bangun momentum.

Dan, Eureka… berhasil. Dinosaurus itu akhirnya ikut Baha. Tentu saja, dengan satu syarat: pinjam.

Dan seperti ritual sebelumnya, jari kelingking kembali menjadi saksi. Janji kecil antara Baha dan Bu Ifa, istri Pak Yunus. Yang bagi anak-anak, mungkin terasa sangat besar.

Hadiah yang Sudah Disiapkan

Selanjutnya, kami ke rumah Abah Sukono. Tetangga yang sudah sangat dekat dengan Baha. Bahkan sering memberinya hadiah.

Kali ini, tanpa banyak drama. Baha duduk manis di sofa. Tapi matanya sudah bekerja. Mengamati. Menghitung peluang.

Namun ternyata, ia tidak perlu berusaha. Abah Sukono sudah menyiapkan sesuatu.

Action figure Venom.

Beberapa bulan sebelumnya, Baha sudah diberi Spiderman. Kini, “semestanya” lengkap.

Hari itu, Baha pulang dengan tiga “oleh-oleh”: dua pinjaman, satu hak milik. Kami hanya bisa tersenyum. Geli campur haru.

Lebih dari Sekadar Cerita Lucu

Mungkin, bagi orang lain, ini hanya cerita tidak penting. Tentang anak kecil yang suka mainan. Tentang orang tua yang sedikit kewalahan.

Tapi bagi kami, ini lebih dari itu. Ini tentang memori. Tentang sesuatu yang mungkin tidak akan diingat secara detail oleh anak-anak kami nanti. Tentang malam. Tentang gerimis hujan. Tentang ayunan. Tentang mainan. Tentang dinosaurus dan Venom.

Semua itu mungkin akan hilang. Tapi rasa itu semoga tinggal. Rasa bahwa bertetangga itu hangat. Bahwa berkunjung itu menyenangkan. Bahwa ada orang-orang di sekitar yang peduli.

Di kota, kita sering hidup berdampingan. Tapi tidak benar-benar hidup bersama. Kita tahu nama, tapi tidak tahu cerita. Kita berpapasan, tapi jarang berkunjung.

Dan Idulfitri, mungkin, adalah salah satu sedikit momen di mana semua itu bisa dijembatani. Tanpa alasan rumit. Tanpa agenda tersembunyi. Hanya datang. Duduk. Tersenyum. Saling bertegur sapa dan saling memaafkan.

Yang Belum Terlihat

Kami tidak tahu, apakah tradisi ini akan terus hidup. Kami juga tidak tahu, apakah anak-anak kami nanti akan melakukan hal yang sama. Dunia mereka nanti bisa jadi sangat berbeda.

Tapi kami berharap, ada satu hal yang tetap tinggal. Bahwa hubungan dengan tetangga itu penting. Bahwa kebaikan itu bisa dimulai dari yang paling dekat. Dan bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi, tapi cara merawat kemanusiaan.

Sebagaimana satu pesan sederhana yang sering kita dengar: bahwa barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka muliakanlah tetangganya.

Mungkin semua ini terlihat sederhana. Anjang sana. Anjang sini. Cerita anak kecil dengan segala tingkahnya.

Tapi bukankah hidup memang dibangun dari hal-hal sederhana seperti itu? Yang kelihatan kecil. Yang sering dianggap sepele. Tapi diam-diam membentuk cara kita melihat dunia dengan lebih sempurna.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika anak-anak kami dewasa, sudah berkeluarga dan meiliki istri dan anak, mereka tidak akan ingat semua detailnya.

Tapi mereka akan tahu satu hal: bahwa di suatu hari raya, mereka pernah berjalan dari rumah ke rumah, dan belajar—tanpa disadari— tentang belajar menjadi manusia seutuhnya.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan