Malam terlewati begitu cepat rasanya, maklum saat ini adalah musim panas, di mana waktu rembulan berpendar lebih pendek masanya ketimbang surya bersinar. Markaz yang penuh di malam hari seketika menjadi sepi bak kuburan, jalan-jalan tidak sepadat seperti malam kemarin. Hanya jalan-jalan menuju masjid yang penuh sesak oleh mobil dan motor para jamaah sholat Idul Adha.
Para penduduk mengenakan pakaian tradisional mereka, Shalwar dan Kameez, yang semalam mereka beli untuk menunaikan salat Idul Adha pagi ini. Beberapa perempuan Pakistan ada yang mengenakan dupatta, semacam jenis kerudung Indonesia di era 1980-an, atau jilbab maupun burqa, bersama dengan keluarga mereka melaksanakan salat Idul Adha.

Terasa asing bagi diaspora Indonesia ketika menunaikan salat Idul Adha di Pakistan. Sebab, tata cara salat tak seperti yang acap digunakan di Indonesia. Pakistan yang bermazhab mayoritas Hanafi melakukan tata cara salat Idul Adha yang mengakhirkan takbir tambahan di rakaat kedua, dan ini berbeda dengan yang ada di Indonesia. Namun, perbedaan tersebut sama sekali tidak melunturkan kekhidmatan dalam menunaikan ibadah ini.
Khatib Idul Adha naik mimbar setelah salat Idul Adha rampung. Di beberapa masjid, biasanya para takmir akan membagikan kotak makanan ringan ke para jamaah. Kotak makanan tersebut berisi Halwa, manisan khas sub-kontinen yang sering dihidangkan dalam perayaan-perayaan hari besar Islam maupun acara-acara besar seperti pernikahan atau tausyiah. Halwa memiliki berbagai macam warna dan spesifik nama sesuai dengan asal daerahnya; Karachi Halwa biasanya bewarna coklat karena terbuat dengan campuran kelapa, Dhakka Halwa berwarna kuning terbuat dengan campuran keju. Bagi beberapa diaspora Indonesia tidak bisa memakan Halwa karena rasanya yang sangat manis bagi lidah mereka.
