Selepas prosesi salat Idul Adha selesai, muslim Pakistan bergegas kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap menyembelih hewan kurban. Namun tak seperti di Indonesia yang melakukan ritual penyembelihan hanya di masjid, beberapa muslim Pakistan melakukan penyembelihan di depan rumah atau di lahan kosong komplek pemukiman. Demikian selokan perumahan tidak hanya mengalirkan air limbah rumah tangga, namun juga darah-darah dari hewan kurban yang disembelih.
Selepas satu hari yang sibuk sejak pagi hingga sorenya, malam hari tersebut hingga tiga malam setelahnya akan dipenuhi dengan pesta jamuan. Menu makanan seperti kabli palao (nasi dengan hidangan daging sapi), mutton palao (nasi dengan hidangan daging kambing), kabab (olahan daging berbentuk pipih), dan dahi (olahan susu semacam yoghurt) akan menjadi makanan wajib selama tiga hari ke depan.

Bagi diaspora Indonesia, undangan makan tidak ada habisnya silih berdatangan selama tiga hari tersebut. Dari teman atau kolega kantor hingga institusi pendidikan seperti madrassa. Meskipun perayaan Idul Adha tidak sama seperti di Indonesia, dengan berkumpul sesama diaspora Indonesia disertai kehangatan jamuan para warga lokal, diaspora Indonesia tetap merasa seperti berada di tanah air Indonesia.
Dengan melihat tradisi Idul Adha muslim Pakistan, penulis dapat melihat bagaimana inklusinya Islam dalam interaksinya dengan local culture dari masyarakat tersebut. Nilai-nilai dari apa yang telah dicontohkan dalam peristiwa Nabi Ibrahim dan keluarganya tetap terjaga dalam benak umat muslim, sembari tetap melestarikan tradisi-tradisi lokal yang telah ada dan tidak bertentangan dengan substansi dari ajaran tersebut.
