Cara permainannya beragam. Salah satunya dengan main kocok kartu. Kemudian beberapa kartu dijejer di lantai. Masing-masing anak akan memungut kartu-kartu itu. Pemenangnya adalah siapa yang memungut kartu dengan nomor terbesar. Yang sering menang akan kaya kartu, sampai berdus-dus. Banyak anak yang keranjingan main kartu wayang itu. Di zaman itu, satu lembar kartu mungkin harganya Rp 1.
Tapi tak semua anak selalu diberi uang oleh orang tuanya untuk membeli kartu wayang itu. Salah satunya adalah saya. Maka, ketika rumah sedang sepi, diam-diam saya mencuri uang orang tua dari laci lemari. Saya menyelinap dan pergi ke toko tak jauh dari rumah untuk membeli kartu wayang yang saya idamkan. Tapi saya bingung, hanya diberi selembar kartu wayang. Seharusnya dapat banyak. Tapi tak apalah, toh saya bisa bermain dengan anak-anak lain.

Di luar pengetahuan saya, sang pemilik toko datang ke rumah menemui orang tua saya. Selembar uang kertas bernilai Rp 10.000 diserahkan kepada orang tua saya. Sang pemilik toko melaporkan bahwa saya baru membeli kartu wayang dengan membawa uang Rp 10.000! Bayangkan, berapa nilai uang pecahan Rp 10.000 di zaman itu, sementara nilai tukar dollar AS di kisaran Rp 400 per dollar AS dan harga selembar kartu wayang Rp 1.
Orang tua saya mengelus dada. Sang pemilik toko merelakan selembar kartu wayang untuk saya tanpa minta uang pembayaran. Sepulang dari bermain saya dihujani petuah. Tapi sejak itu saya tak lagi mengulanginya.
***
Itulah sedikit gambaran lingkungan saya dibesarkan. Saya adalah anak-anak mereka juga. Saya adalah juga anak-anak tetangga. Orang-orang selalu menganggap anak-anak orang lain, dalam batas tertentu, adalah anak-anak mereka juga. Karena itu, mereka merasa memiliki tanggung jawab moral dan tanggung jawab sosial terhadap anak-anak orang lain, nyaris sama seperti terhadap anak-anak mereka sendiri.
Memang, kasir Indomaret itu, juga semua perangkat toko-toko modern itu, tak melanggar hukum dan aturan apa pun ketika melayani anak di bawah umur untuk top up game online. Tapi apa ruginya, misalnya, dalam kasus seperti ini, ia minta agar si anak diantar oleh kakaknya atau orang tuanya. Atau meminta nomor telepon keluarganya untuk dikonfirmasi.

Setuju, karena tanggung jawab mural dan akhlak anak bangsa merupakan tanggung jawab kita bersama. Bersama-sama dalam membangun peradaban bangsa yang bermoral adalah kebersamaan yang sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Namun, marah2 bukan jalan keluar yang recomended.