Acara tumpengan dan diskusi buku yang digelar jejaring duniasantri (JDS), Selasa (27/1/2026) malam, berlangsung meriah. Acara yang digelar semi outdoor di Jalan Garuda II, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, ini dihadiri sekitar 70 orang dari kalangan akademisi, santri, mahasiswa, pegiat sastra, dan masyarakat umum.
Acara diawali dengan penampilan Hadrah Banjari pimpinan Maftuha Jakfar yang cukup menyedot perhatian. Usai penampilan hadrah, penyair dan peneliti budaya Sarah Moneca tampil membacakan puisi karya Nizar Khabbani tentang Palestina.


Acara kemudian berlanjut ke Orasi Santri yang disampaikan budayawan Jamal D. Rahman. Dalam orasi santri berjudul “Sanad, Ilmu, Sastra: Dialektika Tradisi Pesantren”, budayawan asal Madura ini mengkonstruksi epistemologi keilmuan dan kesastraan di lingkungan pesantren.
Usai Orasi Santri, acara dilanjutkan dengan diskusi buku yang berjudul Imajinasi: The Future Society – Pandangan Para Aktivis Nahdliyin. Buku yang baru diterbitkan oleh Unusia ini ditulis oleh para aktivis dan intelektual Nahdliyyin.
Hadir sebagai narasumber dalam diskusi buku ini adalah Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Prof. Dr. Rumadi Ahmad, M.A., Dr. Ngatawi Al-Zastrow, Dr. Neng Dara Affiah, dan Dr. Ahmad Suaedy. Dalam diskusi yang dimoderatori Darmawati Majid ini, para narasumber memaparkan dampak perkembangan teknologi informasi, terutama Artificial Intelegence (AI), terhadap masa depan kehidupan beragama.

Setelah diskusi buku usai, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Santined dan Gilang Eka Sulaeman. Kemudian, Rara Zarary dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, memberikan testimoni tentang perkenalannya dengan jejaring duniasantri. Ia berharap, jejaring duniasantri terus memperluas kiprahnya dalam mendukung pengembangan literasi di lingkungan pesantren.
“Saya berharap, jejaring duniasantri, melalui web duniasantri.co, bisa menjadi payung dan mendorong pengembangan media-media yang dikelola pesantren di seluruh Indonesia,” ujar Rara Zarary.
Acara yang dipandu Kayla Nareswari dan Nayla Authar ini kemudian ditutup dengan doa dan potong tumpeng, sebagai ungkapan rasa syukur jejaring duniasantri telah memasuki usianya yang ketujuh tahun.
