Menanggapi persoalan tersebut, KH Mustain Syafi’i menjelaskan bahwa ketidaknyamanan dalam kehidupan pesantren dapat menjadi bagian dari proses pendidikan dan pendewasaan santri. Berbagai tantangan dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membentuk kedisiplinan dan ketahanan diri. Meski demikian, pengalaman tersebut perlu dipahami secara proporsional, terutama ketika berkaitan dengan hubungan antarsantri.
Diskusi kemudian mengarah pada pertanyaan tentang kemungkinan menuangkan pengalaman kehidupan pesantren ke dalam tulisan tanpa merusak nama baik pesantren. Persoalan ini memperlihatkan bahwa menulis tentang pesantren tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga tanggung jawab.

Pengalaman dan persoalan yang muncul di lingkungan pesantren dapat diangkat menjadi tulisan dengan tetap mengutamakan adab dan etika. Penulis perlu memperhatikan kebenaran informasi, konteks peristiwa, serta dampak tulisan terhadap pihak-pihak yang terlibat. Dengan demikian, tulisan dapat menjadi sarana menyampaikan persoalan sekaligus membuka ruang refleksi dan perbaikan.
Menjaga adab tidak harus berarti menutup ruang kritik. Sebaliknya, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari upaya merawat tradisi pendidikan pesantren.
Pembahasan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya literasi agar pengalaman dan persoalan dalam kehidupan sehari-hari dapat disampaikan secara jernih, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah sesi diskusi, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi, termasuk puisi lintas iman, serta berbagai pertunjukan seni. Panggung festival menghadirkan Wayang Beber Metropolitan, monolog Hubbul Wathon, dan musik Empang. Beragam penampilan tersebut menjadi ruang ekspresi yang mempertemukan tradisi pesantren dengan perkembangan seni dan sastra.
Pemenang Lomba
