Ada satu hal yang kadang luput kita sadari: sesuatu yang bermula dari keikhlasan pun dapat berubah menjadi persoalan ketika kehilangan batas. Bahkan dalam ruang yang paling kita hormati sekalipun. Karena itu, membicarakan relasi kuasa di pesantren bukan berarti sedang mencurigai kiai, meragukan tradisi khidmah, atau membawa ukuran-ukuran luar untuk menghakimi pesantren. Justru sebaliknya, ini adalah ikhtiar dari dalam untuk merawat pesantren agar tetap menjadi tempat ilmu, adab, dan keberkahan.
Pesantren memiliki relasi yang khas. Kiai, gus, bu nyai, ning, guru, dan santri tidak sepenuhnya dapat dibaca dengan logika hubungan atasan dan bawahan. Ada takzim, ada khidmah, ada berkah, ada sanad keilmuan, dan ada ikatan batin yang tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa organisasi modern.

Tetapi justru karena relasi itu begitu kuat, ia membutuhkan kesadaran yang kuat pula.
Jalan Keberkahan
Saya teringat satu refleksi Gus Baha tentang relasi manusia: berteman dengan orang kaya bisa memunculkan hasud, rasa iri ingin mendapatkan kenikmatan yang sama. Sementara, berteman dengan orang miskin bisa membuka peluang isti’bad, yaitu memperlakukan orang lain seakan-akan lebih rendah (baca: ‘diperbudak’) dan dapat diperlakukan sesuka hati. Di situlah manusia diuji.
Relasi sosial hampir selalu membawa potensi kuasa. Yang memiliki harta mempunyai daya tertentu. Yang memiliki ilmu memiliki daya tertentu. Yang memiliki jabatan memiliki daya tertentu. Bahkan orang yang dianggap paling saleh sekalipun tetap memiliki kekuasaan ketika orang lain menaruh hormat yang sangat tinggi kepadanya.
Pesantren tidak steril dari hukum manusia tersebut.
Namun pesantren memiliki perangkat moral yang jauh lebih kaya untuk mengelolanya: lillah, fillah, takzim, tawadhu, khidmah, dan amanah.
Santri yang membantu kiai bukan sekadar sedang mengerjakan pekerjaan. Ia sedang belajar tentang pengabdian. Ketika santri membantu menyiapkan kebutuhan kiai yang akan mengajar, menemani perjalanan dakwah, mengurus keperluan pesantren, atau membantu pekerjaan yang memungkinkan kiai lebih banyak menggunakan waktunya untuk ilmu dan umat, di sana terdapat makna khidmah yang luhur.
Kiai menghabiskan waktu untuk mengajar. Santri membantu agar waktu itu tidak habis untuk urusan yang sebenarnya dapat dibantu. Kiai melayani umat. Santri membantu agar pelayanan itu berjalan lebih baik. Dalam relasi semacam ini, keduanya saling menguatkan. Simbiosis mutualisme.
Kiai memberikan ilmu; santri memberikan tenaga. Kiai memberikan waktu untuk umat; santri membantu menjaga waktu itu. Keduanya bertemu dalam satu orientasi: lillahi ta’ala. Itulah khidmah yang menumbuhkan keberkahan.
Tidak Tanpa Batas
Tetapi ada satu kesalahpahaman yang perlu kita luruskan dengan tenang: ikhlas bukan berarti kehilangan batas. Santri boleh ikhlas. Bahkan sebaiknya memang harus ikhlas. Tetapi keikhlasan santri tidak boleh menjadi alasan bagi siapa pun untuk mengabaikan kewajaran.
Sebab ikhlas adalah kualitas batin seseorang. Sedangkan batas adalah etika dalam hubungan sosial. Keduanya tidak bertentangan.
Seorang santri dapat ikhlas membantu kiai, tetapi tetap memiliki hak untuk belajar, beristirahat, menjaga kesehatan, dan mengembangkan dirinya. Seorang kiai dapat menerima khidmah santri dengan penuh penghargaan, tetapi tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa khidmah tersebut tidak bergeser menjadi eksploitasi.
