Monolog Tari

Manusia sering lupa, bahwa bukan mereka saja yang punya perasaan. Bangsa kami, punya IQ yang tinggi. Telepati kami kuat. Rasa empati kami juga tak kalah beda sama manusia. Tak jarang kami berkunjung ke tempat di mana kawan kami mati. Entah itu karena sudah waktunya ataupun karena tangan usil manusia. Ibuku sampai berbulan-bulan bersedih ketika ayahku akhirnya dikabarkan meninggal. Ibu sangat terpukul. Sorot matanya cukup lama tak memancarkan semangat. Tapi, berkat dukungan dan hiburan dari kerabat-kerabat dekat, ibu akhirnya bisa bangkit lagi.

“Kara, aku… rasanya ingin pindah benua saja. Afrika katanya lebih damai, seperti yang dikatakan oleh Pak Mahout. Di sana (dipisah) juga ada kerabat nenek moyang kita,” bisikku pelan, tapi dengan nada antusias.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kara tidak menjawab. Membiarkan kata-kataku terbawa angin begitu saja. Menatapku dengan mata sayunya.

“Tari,” katanya lirih, nyaris seperti teguran, “ tidakkah kau tahu Afrika itu di mana? Kau tak ingat kata Pak Mahout? Bagaimana dengan kawan-kawan yang lain?” matanya masih menatapku. Dengan tatapan yang sangat dalam.

“Iya sih, Ka. Tapi kita bisa pergi bersama-sama. Bagaimana?” bukannya kasih jawaban, Kara malah pergi begitu saja meninggalkanku. Aku bergegas mengikutinya. Meninggalkan kulit pohon, ranting, dan makanan lainnya yang masih tersisa banyak.

“Tar…” Kara tiba-iba saja berhenti.

“Tidakkah kau menyadari pikiranmu kali ini sangat tak masuk akal? Aku paham, mungkin keadaaanlah yang membuatmu berpikir seperti itu. Tapi kau harus ingat, kata pak Mahot, Afrika itu jauh. Sangat jauh. Sedangkan kita tak mungkin pergi sendiri. Pindah satu ya harus pindah semua. Kau tak berpikirkah bagaimana kalau nanti kita semua tersesat? Kelaparan di tengah jalan? Anak-anak merengek minta makan? Ibu hamil yang kandungannya sudah 20 bulan apakah mereka akan kuat? Dan, yang terpenting, bagaimana kalau kita ketahuan sama manusia? Mending kalau si manusianya baik, ngajak kita balik lagi. Lah kalau kebetulan yang memergoki kita seorang pemburu? Mata duitan? Bukankah mereka seperti mendapat rezeki nomplok? Kau mau kita semua dicincang kasar oleh mereka?” perkataan Kara bagai duri yang menancap di dada. Aku sadar, dia memang benar. Aku menunduk merasa bersalah.

“Tapi, Kar,” tanyaku pelan, mencoba mencairkan kembali suasana, “pernah dengar gajah cenayang gak?”

Tuk! Belalai Kara menepuk dahiku cukup keras. Membuatku langsung mendongakkan kepala dengan kesal.

“Kau pasti tahu tentang cerita leluhur kita yang katanya pernah mencabik-cabik seorang manusia betina yang sering gonti-ganti jantan?” tanyaku dengan sangat antusias. Aku yakin Kara tahu tentang cerita itu.

“Atau tentang salah satu leluhur kita yang membunuh seorang petugas hewan karena bilang pada temannya kalau dia akan mengeksekusi salah satu bangsa kita? Tapi karena leluhur kita alias bangsa kita baik hati dan suka memikirkan perasaan orang lain, akhirnya si mayat manusia itu dikubur sama leluhur kita. Mungkin karena manusia itu yang tak bersalah. Hanya leluhur kita itu merasa terancam. Benar begitu ya, Kara?”

One Reply to “Monolog Tari”

Tinggalkan Balasan