Monolog Tari

Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya dengan wajah yang sangat serius, “Tahu darimana kamu, Tar?”

“Kuping sebesar ini sayang banget kalau tak guna, Kar. Badan besar otak juga besar. Kuping besar ya pendengarannya juga harus tajam!” ujarku dengan bangga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Nguping manusia kamu?” tanya Kara dengan nada ketus.

“Kara, bukan aku yang nguping. Hanya telinga yang besar dan lebar ini yang memang memiliki fungsi yang sama besarnya,” belaku sambil mengibas-ngibaskan telinga dengan bangga.

“Jadi, apakah cerita-cerita itu benar? Apakah leluhur kita memang melakukan itu? Mungkinkah itu penyebab adanya rumor tentang gajah cenayang di obrolan-obrolan manusia?” Sekarang aku benar-benar tak sabar menunggu jawaban Kara.

“Tar, apa kau benar-benar tak tahu cerita ini?” pertanyaan Kara jelas sangat mengejutkanku, terkesan sedikit meremehkan. Dengan lemas aku menggelengkan kepala. Aku benar-benar tak tahu. Kejadiannya terjadi ketika aku belum lahir. Sedangkan Kara lebih tua dariku satu tahun.

“Serius?” nada serius dan tatapan Kara membuatku semakin tak nyaman. Lagi-lagi aku menggeleng, berharap Kara segera mengungkapkan jawabannya.

“Aku juga tak tahu,” lanjut Kara dengan nada super santai. Ia melenggang dengan langkah yang tak pantas. Seolah-olah semua pertanyaanku dan rasa canggung yang dia sendiri ciptakan hanya lelucon murahan.

“Kara! Pergi kau ke Afrika!” teriakku tak tahan menahan kesal. Sangat kesal!

Sumber ilustrasi: suara.com.

One Reply to “Monolog Tari”

Tinggalkan Balasan