Mudik adalah aktivitas menyambut lebaran yang identik dengan opor dan ketupat. Dalam khazanah Jawa, ketupat alias kupat merupakan kependekan dari laku papat. Laku papat seorang muslim adalah syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Sementara dalam tradisi Jawa ada lebaran, leburan, luberan, dan laburan.
Lebar bermakna selesai atau usai yang menandai berakhirnya puasa selama satu bulan penuh. Berasal dari lebar, artinya lapang dadanya, zakat fitrahnya terbayar, dan pintu ampunan terbuka lebar.

Lebur bermakna melebur sebagai pengingat bahwa dosa-dosa manusia selama bulan Ramadan luluh di hadapan Allah. Biasanya diiringi dengan tradisi saling memaafkan ke saudara, tetangga, dan kerabat.
Luber bermakna melimpah sebagai simbol melimpahkan maaf kepada orang yang meminta maaf dan sebaliknya. Luberan juga merupakan simbol sedekah dalam bentuk zakat.
Labur bermakna pemutihan diri sebagai momentum untuk menyucikan diri dari segala dosa dan kesalahan. Maknanya agar manusia menjaga kesucian lahir dan batin dalam dirinya di hari yang fitri.
Setelah “berpuasa” lebaran selama dua tahun, kali ini masyarakat akan kembali merasakan sensasi dan esensi kembali pulang ke kampung halaman alias mudik. Menjadi pribadi yang fitri, bukan malah menjadi sombong memerkan kesuksesan di tanah perantauan. Mudik adalah momen kontemplasi menemukan diri yang sejati.
