Mudik (untuk) Lebaran

Lebaran identik dengan hari kemenangan. Namun bagi kalangan sufi (pengkaji tasawuf), seharusnya lebaran adalah momen kesedihan yang mendalam. Kesedihan ditinggal bulan mulia, kesedihan belum begitu sempurna beribadah, dan kesedihan karena tidak tahu suatu saat apakah bisa dipertemukan lagi dengan bulan Ramadan.

Istilah hari kemenangan bukan diartikan bahwa kita sudah lepas dari “siksa” untuk tidak makan/ minum, bermaksiat, dan lainnya. Kemenangan adalah sebuah capaian di mana kita berhasil menaklukkan nafsu dan mendapat keberkahan di bulan Ramadan. Jadi kemenangan setiap orang akan berbeda satu dengan lain.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Makna mudik lebaran bukan sebatas kebahagian berkumpul bersama sanak saudara. Mudik merupakan rangkaian perjalanan hidup manusia, singgah (pulang) sementara untuk kembali merantau ke luar kota mencari bekal. Momentum bertemu dan berbagi kisah dengan keluarga besar untuk memulai kembali aktivitas pada bulan Syawal layaknya ibadah di bulan Ramadan. Semua keluarga berkumpul menjadi satu. Beberapa daerah melakukan ritual sungkeman ke orang tua, tetangga, dan sanak saudara.

Kesuksesan pemudik adalah seberapa besar ia bisa bermanfaat untuk orang lain, bukan sekadar seberapa banyak uang yang dibagikan ke sanak keluarga. Pemudik akan lebih dihargai ketika ia yang tidak lupa (berusaha melupakan) masyarakat dan lingkungan di kampung halamannya, sehingga masih bisa membaur dan bercengkrama seperti dulu sebelum menjadi perantau.

Kampung halaman adalah tujuan, seperti burung yang ke mana pun terbang akan kembali kepada sangkarnya. Momentum spesial itu hanya bisa dirasakan oleh beberapa orang saat mudik Lebaran. Mengunjungi orang tua, mertua, dan sahabat untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan satu sama lain.

Jadi mudik adalah aktivitas melepaskan segala bentuk busana yang melekat pada diri saat di perantauan. Semua melebur untuk menanggalkan harta, pangkat, jabatan, dan segala aksesoris duniawi lainnya. Dituntut menjadi manusia yang fitrah, bersimpuh kepada orang tua dan mengakui segala kesalahan untuk mengharap rida dari keduanya.

Tinggalkan Balasan