Bagaimana jika musik justru membawa kita semakin dekat dengan dan selalu mengingat Tuhan? Bagaimana jika, dengan musik, ajaran Tuhan justru lebih mudah diterima, diserap, dan diamalkan?
Itulah yang dilakukan oleh Walisongo, misalnya Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Kedua wali penyebar Islam di Nusantara ini pasti tahu ada sebuah hadits di mana Rasul pernah mengatakan bahwa pada masanya akan ada umatnya yang menghalalkan alat musik. Tapi, Sunan Kalijaga justru banyak mengarang lagu, di antaranya Lingsir Wengi dan Lir-Ilir, yang tetap popular hingga kini. Lalu, ada wali yang berjuluk Sunan Bonang lantaran menciptakan gamelan, alat musik yang disebut bonang, yang terbuat dari tembaga. Sunan Bonang juga banyak menciptakan lagu, di antaranya Tombo Ati, yang juga sangat popular hingga kini.

Itulah di antara berbagai kreasi para wali dalam berdakwah. Kita tahu, sesungguhnya Islam telah masuk ke wilayah Nusantara sejak masa paling dini. Mungkin akhir abad ke-8 atau ke-9 Masehi. Namun penyebarannya terantuk jalan buntu selama lebih dari lima abad. Kemudian datang Walisongo yang tahu persis karakter masyarakat Nusantara: masyarakat yang tidak menolak atau menerima segala apa yang datang kepada dirinya, melainkan menyerap, mengolah, kemudian menjalankannya. Para wali ini kemudian membuat terobosan, breakthrough: berdakwah melalui jalan kebudayaan.
Maka, Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai media dakwah. Kita tahu, jika memahami ajaran agama secara tekstual, maka semua yang ada pada pertunjukan wayang adalah hal-hal yang diharamkan. Ia peninggalan Hindu-Budha. Media wayangnya adalah gambar dua dimensi, malah ada yang tiga dimensi. Musiknya gamelan. Dan lagunya yang dinyanyikan sinden? Sudah pasti haram juga.
