Musyawarah Para Pendekar Bahasa

Nama-nama di atas, dianggap sebagai orang yang sangat peduli dengan bahasa Indonesia, meskipun tidak berangkat dari ilmu bahasa. Mungkin, hari ini kita menjumpai Ivan Lanin, yang digadang-gadang sebagai pendekar bahasa. Iya, mungin karena hampir setiap hari konten yang ditampilkan di media berkenaan dengan bahasa Indonesia. Di sini, HA tidak menjelaskan definisi final tentang “pendekar bahasa”. Ia hanya membahas kiprah sang pendekar bahasa.

Dalam esai yang berjudul “Melecehkan Bahasa Indonesia”, HA menyebut bahwa salah satu cara melecehkan bahasa Indonesia melalui kegiatan literasi seperti pameran buku, diskusi, dan seminar dengan cara menamai acara tersebut menggunakan bahasa Inggris (hlm. 110). Ada banyak contoh kegiatan literasi yang menggunakan judul bahasa Inggris di acara formal. Baik yang diselenggarakan oleh komunitas literasi, kampus, maupun pemerintah. Ini bagian dari kita melakukan kebaikan tetapi dengan cara yang buruk, seperti bersedekah dari uang hasil mencuri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari dua puluh sembilan esai, HA cukup intens mengobrak-abrik bahasa Indonesia yang digunakan oleh pihak-pihak terkait. Selain itu, HA mengutip Harimurti yang menyebut bahwa Ki Hajar Dewantara, M Tabrani, Soemanang, dan Soedarjo sebagai pendekar bahasa Indonesia pertama (hlm. 21). Di mana Ki Hajar menyampai prasaran tahun 1916 dalam Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag, Belanda, bahwa bahasa Melayu menjadi bahasa yang cocok dan relevan di wilayah Hindia Belanda. Inilah sumbangsih nyata dari sang pendekar untuk mencetuskan bahasa Indonesia di tengah penjajahan masih berlangsung.

Di sisi lain, M Tabrani, laki-laki berdarah Madura ini, mengusulkan nama bahasa Indonesia pada Kongres Pemuda 1 dan 2 Mei 1926. Selebihnya dua tokoh lain juga tak kalah pentingnya dalam peradaban bahasa Indonesia. Hari ini, kita tidak akan menemukan generasi emas dalam bahasa Indonesia, seperti yang dilakukan oleh empat tokoh tersebut. Bukan semata-mata kehilangan generasi cerdas dan berbakat. Melainkan, momentum Kongres Pengajaran Kolonial dan Kongres Bahasa Indonesia 1 tidak akan terulang kembali.

Tinggalkan Balasan