Ngaji Nashaihul Ibad: Memaknai Kehidupan Dunia dan Akhirat

Artinya, menurut Kiai Fikri, mereka akan tenggelam dan tidak ada seorang penolong pun yang akan membantunya. Karena amal kebaikan merupakan bekal yang dibawa mati oleh setiap orang. Oleh karena itu, seharusnya kita sudah mempersiapkan diri sebelum ajal menjemput kita. Dan amal kebaikan merupakan sebaik-baik bekal untuk kebahagiaan di alam kubur.

Di bagian lain dikutip sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Orang yang ada di kuburan bagaikan orang tenggelam yang memerlukan pertolongan.” Kiai Fikri memberi penjelasan, bahwa orang yang tenggelam di dalam lautan adalah orang yang paling membutuhkan pertolongan. Bisa sangat mungkin jika orang tersebut mujur akan mendapat pertolongan dari orang lain. Akan tetapi, di dalam kubur, tidak akan ada orang yang bisa menolong kecuali amal perbuatan baiknya semasa hidup di dunia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kiai Fikri juga menambahkan penjelasan, bahwa keluhuran dunia dicapai dengan harta benda, sedangkan keluhuran akhirat hanya dapat dicapai dengan amal kebaikan. Ada perbedaan mendasar dalam kehidupan dunia dan akhirat. Pun, keduanya memiliki konsekuensi yang sangat bertolak belakang. Ketika keduniaan dijadikan fokus utama tanpa mengindahkan kehidupan akhirat, maka orang tersebut dalam kerugian yang amat besar. “Walal akhiratu khairul laka minal ula,” dan sungguh kehidupan akhirat itu lebih baik daripada kehidupan dunia.

Selanjutnya, dikutip pernyataan Sahabat Usman bin Affan. “Khawatir terhadap keduniaan merupakan suatu kegelapan hati dan khawatir terhadap urusan akhirat merupakan cahaya di dalam hati.”

Tinggalkan Balasan