Buku tafsir puisi oleh K. M. Faizi

“Nyalasar”: Menafsir Puisi, Menyelami Makna Kata-kata

Sebagai penulis buku, Nyalasar karya M Faizi seringkali memberikan catatan bahwa apa yang Beliau tafsirkan adalah sebuah keniscayaan. Bukan sebagai kebenaran tunggal apalagi mutlak. “Saya menggunakan pola tafsir sederhana dan manasuka: kata perkata , frasa per frasa, dan seterusnya. Tujuannya adalah demi membantu pembaca menemukan kekayaan pemahaman, bukan dengan maksud menguasai satu-satunya pemaknaan” (hal. 21).

Jadi, buku tafsir puisi ini merupakan salah satu jalan untuk dijadikan lorong pemaknaan meski lorong-lorong yang lain begitu sangat terbuka. Setidaknya, salah satu jalan telah diterabas olah M Faizi, sehingga yang lain bisa saja membuka jalur tafsir yang mungkin berbeda.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak semua kata, frasa, atau kalimat dapat ditafsirkan secara gamblang oleh M Faizi. Ada beberapa larik puisi yang justru mengambang atau tidak ditafsir secara nyata. Tersebab oleh korelasi kalimat yang ambigu, bias, dan alasan lainnya. “(Nah, ini dia, entah mengapa, kok penyair menggunakan mahoni sebagai simbolnya, hal. 19).”

Kalimat ini menunjukkan bahwa ada beberapa kata, frasa, atau kalimat yang hanya diketahui oleh si penyair. Pembaca atau penafsir hanya dapat mengira, mereka (ulang), dan menerka makna atau maksud dari si penyair itu sendiri.

Ada banyak hal puisi yang ditafsirkan dalam buku ini. Seperti yang diungkapkan langsung kepada saya, ketika saya berjumpa dengan M Faizi dan sedikit berbincang tentang buku ini, bahwa tafsir puisi ini berdasar manasuka. Termasuk puisi yang dipilih pun, didapat dari banyak sumber. Bisa sangat mungkin puisi yang berkelebat di lini massa FB Beliau menjadi target untuk ditafsirkan. Ya, begitulah ke-manasuka-an M Faizi, benar-benar apa adanya dan apa maunya.

“Apa yang saya tafsirkan adalah apa yang saya tulis, artinya tidak ada diskusi dan diskursus yang mewajibkan saya untuk mengubah, mengedit, memperlebar tafsiran, atau menguranginya. Semua adalah tafsir puisi manasuka yang sebegini adanya,” kata M Faizi saat saya dan Beliau sedang beraudiensi di kediamannya.

Maka muncullah tafsiran-tafsiran puisi dengan berbagai tema dan problematika. Pada halaman 15, di awal penafsiran terdapat puisi dengan tema (judul) “Pisah Ranjang” karya Malkan Junaidi. Sebuah puisi yang terkesan sangat fikih-sentris, bagaimana menjawab persoalan rumah tangga yang karena adanya persoalan kemudian terjadi perseteruan. Tetapi, tidak sampai pada klimaks perpisahan dan masih dalam koridor  “cekcok” yang wajar. Jadilah “Pisah Ranjang” sebagaimana dijelaskan di kitab-kitab klasik adalah sebuah solusi untuk mendapat jawab dari persoalan rumah tangga yang puncaknya berakhir damai. Aamiin!

Tinggalkan Balasan