Sebaliknya, Maya Abu Al-Hayyat memilih bentuk mursal yang lugas dan kadang seperti potongan prosa yang tak ingin disebut puisi. Dalam puisinya “Bagaimana Menyembuhkan Sayap yang Patah,” ia menulis: Tidak, aku tidak akan menulis puisi / untuk memberimu akhir yang indah / Aku lelah dengan metafora / Ini darah sesungguhnya (terjemahan bebas penulis).
Gerak menuju bentuk bebas ini bukan hanya persoalan estetik, tetapi juga bentuk protes terhadap bahasa yang terlalu sering dipakai untuk propaganda atau ideologi. Ia memecah, meretas, bahkan merusak struktur gramatikalnya sendiri demi menangkap luka yang tak bisa lagi dibahasakan secara formal.

Tubuh, Pengungsian, dan Ketegangan Waktu
Puisi Arab hari ini justru menelanjangi tubuh yang terseret, eksil yang tak kunjung usai, dan waktu yang tak bergerak ke depan. Tubuh bukan lagi metafora, tetapi medan luka. Perempuan tidak lagi menjadi perhiasan bait, tetapi menjadi pelaku, saksi, dan korban dalam waktu yang sama.
Penyair seperti Samira Negrouche dari Aljazair, atau Ibtisam Barakat dari Palestina, menulis dengan tubuh sebagai pusat bahasa. Tubuh mereka mengingat. Tubuh mereka menjadi arsip. Tak ada jarak antara pribadi dan sejarah. Dalam banyak puisi kontemporer Arab, identitas tidak hadir sebagai kebanggaan, melainkan sebagai pertanyaan yang terus didekati tanpa pernah benar-benar dijawab.
Di sisi lain, waktu dalam puisi Arab hari ini bukanlah alur linier. Banyak puisi yang terasa seperti surat dari masa lalu, atau ramalan dari dunia yang telah musnah. Mosab Abu Toha, dalam puisinya dari Gaza, menulis bukan untuk meratap, tapi untuk mencatat.
