Pahlawanku

Tak lama setelah Ibu berlalu, kembali suara piring pecah terdengar.

“Ibu! Biar aku saja, Bu, yang memasak. Ibu istirahat di samping Bapak saja. Aku bisa masak, kok,” ucapku setelah menyaksikan Ibu kesulitan berdiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak serta merta Ibu mengikuti saranku. Tangan Ibu masih bekerja membersihkan pecahan-pecah piring meski sudah kularang. Sepertinya akhir-akhir ini Ibu tak enak badan. Sudah dua kali piring pecah olehnya. Aku tak tega.

Aku kerap melihat Ibu memasak. Jadi, kalau hanya memasak sayur bening dan menggoreng ikan itu tak masalah bagiku. Namun, saat aku mencari garam, tak ada sedikit pun garam tersisa di tempatnya.

“Bu, garam habis, ya?” tanyaku dengan nada setengah teriak.

“Iya, minta aja dulu dengan Wak Minah. Bilang besok Ibu bayar gitu.”

“Baik, Bu.”

Terlahir sebagai lelaki, aku tak malu dan gengsi untuk memasak dan belanja ke warung. Bahkan, itu sebagai kebanggaanku sendiri. Kelak aku pun akan menjadi bapak dan suami di keluargaku. Aku mencontoh pada Bapak. Dulu sebelum Bapak sakit seperti sekarang, pekerjaan yang kata orang seharusnya dikerjakan oleh perempuan Bapak kerjakan. Seperti menyapu rumah, bersih-bersih, memasuk, belanja, dan sebagainya.
***
“Mau apa kau, Joko?” Logat Batak Wak Minah memenuhi area warung.

“Anu … Ibu memintaku untuk membeli garam, tapi bayarnya besok kata Ibu,” jelasku.

“Mak sama Anak sama aja, ya. Tukang ngutang. Utang Makmu di sini sudah menumpuk, belum dibayar. Sekarang kau pula utang lagi.” Nada meninggi itu sukses membuatku malu sekaligus geram. Harga diri Ibu dihancurkan di hadapan orang banyak.

Aku putuskan untuk pulang dulu dan mengambil sedikit tabungan untuk membeli garam. Lantas, kembali lagi.

Tinggalkan Balasan