Membicarakan Pancasila di lingkungan pesantren sebenarnya tak ubahnya membincangkan air dengan ikan. Airnya sudah ada dari dulu. Ikannya juga sudah lincah berenang di situ. Hanya, kadang kita baru sadar bahwa itu air, setelah ada orang bilang, “Eh itu namanya air.” Begitu juga dengan Pancasila. Lima sila itu rasanya sudah mendarah daging dalam tradisi pesantren, jauh sebelum 18 Agustus 1945, meski dengan kemasan berbeda.
Kalau kita mau menelusuri jejaknya, salah satu ulama Nusantara yang tulisannya “nyambung” dengan ruh Pancasila, adalah Syekh Nawawi al-Bantani. Beliau ulama Banten, guru dari hampir semua ulama kontemporer di Nusantara. Sebut saja Syaikona Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, KH Achmad Dahlan, Syekh Muhamad Mahfudz at-Tarmasi, dan masih banyak lagi yang pernah mengecap ilmu dari beliau ketika mondok di Tanah Suci.

Syekh Nawawi al-Bantani merupakan putra kelahiran Tanara, Serang, tahun 1813 M. Muridnya banyak. Kitabnya ratusan. Dan, yang paling penting, semua itu beliau tulis sambil memikirkan umat. Jadi bukan sekadar menulis kitab lalu melupakan umat. Gaya beliau santai, tapi dalem. Makanya tidak heran kalau banyak kiai sekarang bilang, “Ngaji Nawawi itu ngaji yang membumi,” dan mulai mengajarkan kitab-kitab beliau di pondok-pondok.
Tulisan ini mencoba membedah bagiamana nilai-nilai Pancasila sudah hidup dalam ajaran Syekh Nawawi. Tidak ada paksaan, tapi benar-benar mengalir dari kitab-kitab beliau. Kita mulai dari dua sila dulu biar tidak kebanyakan dan pusing, karena kita bukan seorang pemikir.
Ketuhanan dan Kemanusiaan
Sila pertama Pancasila bunyinya, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kalau dibaca cepat terdengar sangat formal. Tapi coba jeda sejenak, lalu buka kitab Tafsir al-Munir li Ma’alim al-Tanzil karya Syekh Nawawi Al Bantani. Di tafsir surat Al-Ikhlas, beliau menjelaskan tauhid bukan sekadar “Allah satu, titik.” Tauhid adalah sikap hati yang tenang karena merasa diawasi yang Maha Tahu, juga disayang yang Maha Penyayang. Kalimat beliau kira-kira begini, “al-tauhid huwa ifrad al-qadim ‘an al-muhdats,” menunggalkan yang Qadim dari segala yang baru. Kedengarannya berat, tapi dalam penjelasan beliau, bahwa orang bertauhid itu hidupnya tidak galau, tidak gampang menuduh orang lain kafir, tidak gampang merasa paling benar.
Ajaran Syekh Nawawi tersebut sangat dekat dengan ruh sila pertama. Pancasila tidak memaksa semua orang jadi sama cara ibadahnya. Hanya diberi payung: “Kita bertuhan, kita percaya ada nilai luhur di atas manusia.” Syekh Nawawi juga begitu. Beliau ulama mazhab Syafi’i, penganut akidah Asy’ari, tapi muridnya ada dari mana-mana, dari berbagai mazhab dan aliran. Tidak ada cerita beliau mengusir murid yang berbeda paham, karena tauhid versi beliau adalah pemersatu, bukan pemecah belah.
Kemudian, sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Ini bagian yang paling terasa “sangat santri.” Syekh Nawawi punya kitab akhlak yang tipis tapi berbobot, yakni Nashaih al-‘Ibad. Di situ beliau mengutip banyak nasihat dari ulama salaf. Salah satu yang sering beliau ulang: “man la adaba lahu la ‘ilma lahu.” Kurang lebih begini terjemah bebasnya; siapa tidak punya adab, ya tidak punya ilmu.
Adab versi Syekh Nawawi sangat praktis. Hormat kepada guru, sayang kepada temen, tidak zalim kepada orang lemah. Termasuk, penguasa jangan menindas rakyat dengan kebijakan yang acakadut, sehingga membuat derita.
Di kitab lainnya, Uqud al-Lujain, beliau membahas soal adab suami istri, adab bertetangga, sampai adab buang hajat. Semua dibahas sampai mendetail, karena menurut beliau, manusia beradab terlihat dari hal-hal kecil. Tidak menunggu menjadi pejabat dulu baru adil.
