Ajaran Syek Nawawi tersebut terkandung dalam sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Adil di dalam pandangan Syekh Nawawi artinya tidak pilih kasih. Santri kaya sama santri tidak punya duit, sama-sama disuruh ngaji, sama-sama disuruh nyapu musala, begitu ibaratnya. Beradab artinya tidak ada bullying, tidak ada senioritas kejam. Tentu juga tidak ada pejabat korupsi untuk memperkaya diri dan keluarganya.
Syekh Nawawi sendiri memilih hidup sederhana di Mekkah. Rumahnya kecil, muridnya berjibun, tapi beliau tetap menyempatkan diri mengajarkan adab makan, adab berbicara, adab beda pendapat, adab jika menjadi pemimpin juga. Tidak seperti orang hari ini, punya jabatan sedikit sudah congkak, dan korup.

Jadi kalau ada orang bilang “Pancasila itu sekuler, tidak Islami,” coba disuruh mengaji kitab-kitab Syekh Nawawi Al Bantani dulu. Beliau sudah mempraktikkan sila pertama dan kedua sejak seratus lima puluh tahun lalu, sebelum Pancasila dirumuskan.
Persatuan, Kerakyatan, Keadilan
Sila ketiga, “Persatuan Indonesia.” Syekh Nawawi orang Banten asli, tapi wafat dan dimakamkan di Mekkah. Muridnya? Dari Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, Patani Thailand, sampai jauh di Benua Afrika sana. Kitab beliau dicetak di Kairo, dibaca di Timur Tengah, Hadramaut, Malaysia, sampai diajarkan di pesantren pelosok Nusantara yang akses jalannya saja belum dibangun. Hal tersebut persatuan model apa, kalau bukan persatuan yang dibangun dari ilmu, bukan dari kepentingan apalagi paksaan.
Di Kitab Maraqi al-Ubudiyah, syarah Kitab Bidayatul Hidayah-nya Imam Ghazali, beliau membahas panjang tentang ukhuwwah Islamiyah. Intinya, berbeda ormas boleh, berbeda daerah boleh, berbeda logat boleh, asal satu kiblat, satu niat, yaitu ibadah. Ini persis ruh Bhinneka Tunggal Ika. Pesantren-pesantren yang mengaji kitab Syekh Nawawi menjadi seperti belajar tentang miniatur Indonesia. Ada santri Sundanya Syekh Nawawi, ada santri Maduranya Kiai Kholil, ada santri Bugisnya, rukun semua. Karena gurunya mengajarkan dan mencontohkan. Akhirnya, yang membuat kita terpecahlah bukan karena perbedaan, tapi sebab ego yang merasa paling benar.
Lalu sila keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.” Pada bagian ini, Syekh Nawawi tergolong produktif dalam menulis kitab. Tapi beliau tidak pernah mengaku paling pandai atau paling benar. Di mukadimah hampir semua kitabnya, beliau selalu mengatakan, “Ini saya tulis berdasarkan apa yang saya pahami, kalau ada yang salah mohon diluruskan ulama.” Sikap tawadhu plus terbuka dikritik itu sikap yang sangat demokratis.
Tradisi bahtsul masail di pesantren Nahdlatul Ulama (NU) yang sekarang banyak mengambil metode dari cara Syekh Nawawi mengajar. Berkumpul, membaca kitab, lalu ada yang bertanya, ada yang menyanggah, kiai memberi arahan, tapi tidak langsung vonis. Semua pakai dalil, semua pakai adab. Itulah kerakyatan versi pesantren. Tidak ada diktator. Tidak ada “pokoknya kata saya.” Yang ada “mari kita cari bareng mana yang paling maslahat buat umat.”
Terakhir, sila kelima: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Syekh Nawawi hidup di Mekkah, jauh dari Banten. Tapi beliau tidak pernah lupa kampung halaman. Banyak kitab beliau yang dikirim ke pesantren-pesantren di Jawa, gratis. Beliau juga sering menyantumkan doa untuk raja-raja Nusantara di akhir kitabnya, berharap mereka adil kepada rakyatnya.
Di kitab Kasyifah al-Saja, beliau bahas zakat, wakaf, sedekah dengan bahasa yang gampang. Tidak menggunakan rumus ekonomi yang jelimet. Intinya, orang kaya jangan pelit, orang miskin jangan putus asa, negara wajib hadir. Itulah keadilan sosial versi Syekh Nawawi. Tidak perlu menunggu APBN cair, tapi mulai dari dompet sendiri, dari dapur pesantren yang selalu ada nasi buat santri yang telat dapat kiriman.
