JALAN KETAKZIMAN*
(Untuk KH Said Abdullah Bin Husein)
Seketika lunglai jiwaku
Kabar kepergiamu menerpa waktu begitu pedih.
di antara gemuruh tangis yang panjang
Cintamu terurai begitu nyata.
Di antara tangan-tangan yang gemetar
Sayup-sayup kudengar jeritan luka
Bahkan dalam diam paling puisi
Doa-doa semakin mengalir dalam ingatan yang basah

Tentangmu, duhai Kiaiku
Adalah ingatan yang tak pernah usai
Meski terkadang aku lalai menjabarkan cintamu.
Maka seperti yang telah kumengerti
Jejakmu adalah mihrab dalam setiap langkahku
Dan dari rentetan tahun berlalu
Pada air mata dan rasa sakitmu
Telah kubaca ribuan kisah ketulusan.
Tentangmu, duhai Kiaiku
Adalah Jalan ketakziman yang tak usai kutempuh
Karena itu, laut alpa jiwaku masilah rawan untuk benar-benar kau tinggalkan.
Air segar yang mengalir dari telaga jiwamu
Bukan hanya isyarat ketaatan
Tetapi juga tempatku mandi mencuci lumut dan bau busuk dari kebelingsatan zaman.
Remuk perih jiwa ini
Bertahun-tahun kauanyam jiwaku menjadi kemilau batu
Bertahun-tahun pula kau menanggung kealpaanku
Meski kautahu, bahwa di halaman usiaku hardik begitu mengerikan.
Maka terus terang saja
demi kekhusukan cintamu yang masih menyisakan pujian waktu
Biarkan aku berteduh di kelembutan jejakmu.
Busfa, 12 juni 2026.
