Ditambah lagi, sebuah informasi tersebar di kalangan ibu-ibu bahwa pada pertengahan Ramadan nanti bumi akan menjadi gelap dan mengeluarkan asap. Jika bukan PLN yang hendak melakukan pemadaman massal, saya pikir informasi ini ambigu.
Lalu saya bertanya, dari mana informasi seperti itu? Dijawablah, “dari bu nyai”.

Huft.
***
Di tengah masa pandemi seperti saat ini, dapat dipahami jika masyarakat menjadi mudah panik. Apalagi jika mendapat informasi yang agak mengkhawatirkan. Ketakutan juga semakin bertambah. Oleh karenanya, seluruh elemen kunci dalam masyarakat seharusnya menjadi garda terdepan dalam menyaring berbagai kabar sebelum sampai di telinga masyarakat. Terlebih, para tokoh masyarakat juga wajib memberikan dukungan positif dan mengajak warga untuk tetap tenang. Bukan sebaliknya!
Ketua RT, RW, Lurah, dan Camat, kiai/nyai kampung adalah pemangku kepentingan yang paling dekat hidupnya dengan masyarakat awam. Maka, perlu bagi mereka untuk mempelajari dengan cermat berbagai kabar yang diterima dan menyampaikan dengan cara yang tepat kepada masyarakat. Para perangkat desa seharusnya memahami prosedur penanganan pasien Covid-19 dari A-Z sebagai langkah antisipasi apabila virus ini benar-benar masuk ke lingkungan yang mereka komandani.
Bagaimana merespons hal tersebut, bagaimana menjelaskan ke warga agar tidak panik, bagaimana sebaiknya bersikap ke keluarga pasien, adalah hal-hal yang penting untuk dipahami oleh perangkat desa. Tentu juga dengan tidak mengabaikan kondisi perekonomian warganya di masa pandemi ini, dan mencari cara agar seluruh warga tetap bisa saling mendukung kehidupan sesamanya.
