Pandemi ini Nyata, Jangan Denial!

Tokoh agama juga seharusnya membuka diri dan nalar dalam merespons imbauan pemerintah terkait pelaksanaan ibadah di masjid-masjid atau musholla. Saya pikir imbauan ormas seperti PBNU hingga pemerintah pusat dengan disertai dalil yang memadai sudah cukup bagi para tokoh masyarakat untuk diteruskan kepada warga. Masyarakat perlu diingatkan bahwa apabila suatu saat kegiatan di tempat-tempat ibadah harus dihentikan sementara, maka hal ini harus diterima secara legowo. Tokoh agama benar-benar harus memahami ini, karena hanya mereka lah yang petuahnya didengarkan oleh warga. Bahkan petuah kyai kampung lebih kuat kedudukannya dibandingkan dari perangkat desa.

Saya juga menyesalkan adanya kabar yang saya singgung sebelumnya tentang peristiwa di pertengahan Ramadan ini. Apa perlunya berita menakutkan seperti itu disampaikan? Bahkan seandainya Allah mau, Dia singkap tabir-tabir rahasia kehidupan di alam semesta, baik yang lalu, kini, ataupun nanti. Bukan tugas manusia untuk mengungkapnya, apalagi di tengah kondisi masyarakat yang serba putus asa seperti sekarang. Bukannya malah menenangkan, tetapi malah semakin mengikis harapan orang-orang untuk lepas dari krisis ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Demikian juga warga. Masyarakat awam akan jauh lebih baik jika patuh terhadap peraturan physical distancing. Jangan menunggu ada tetangganya terpapar baru panik. Itu pun hanya sekadar panik. Selanjutnya malah denial, bukan malah waspada. Kan, gemas!

Sikap denial inilah akar dari tidak terlaksananya peraturan soal Covid-19. Apakah dengan bersikap demikian lalu pandemi ini benar-benar pergi? Kan tidak. Pandemi ini tidak mengenal SARA, saudara-saudara. Semua bisa kena. Dan penularannya tidak diketahui tempat dan waktunya. Jadi, daripada terus-terusan menyangkal, lebih baik kita waspada sedini mungkin. Sehingga virus ini tidak sampai kepada kita.

Meskipun tidak ada di lingkungan kita, jangan juga menganggap virus ini benar-benar enggan datang. Kita tidak tahu, kan? Sebab ia juga tak terlihat. Tiba-tiba satu persatu tetangga jatuh sakit, tiba-tiba meninggal. Apa ini tidak cukup menjadi indikasi?

“Jadilah orang awam yang baik,” begitu kalimat yang saya dengar dari seorang dai. Biarkan para ahli yang merumuskan berbagai macam peraturan. Porsi kita adalah mematuhinya dengan menggunakan akal sehat.

Terakhir, saya ingin mengucapkan, selamat memulai PSBB bagi warga Surabaya. Semoga tetap semangat!

Tinggalkan Balasan