Pandemi, Mendekatkan Diri pada Ilahi

Berbeda dengan himbauan pemerintah yang bertujuan untuk menyelamatkan diri dari pandemi, ulama yang hidup pada tahun 716-778 M itu menganggap stay at home (berada di rumah) sebagai bentuk uzlah untuk menyelamatkan diri dari kerusakan yang disebabkan oleh bobroknya moralitas umat manusia.

Uzlah, atau menjauh dari keramaian, menurut Imam Gazali adalah sebuah solusi untuk memproteksi diri dari kekeruhan ruhani. Masih menurut Al-Ghazali yang menukil ungkapan Sahabat Ka’ab dan Ibnu Mas’ud, sekarang ini adalah zaman di mana orang-orang yang buta dan tuli (dari kebenaran) bercampur baur.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Zaman yang dimaksud adalah waktu di mana mereka (Ka’ab dan ibnu Mas’ud) hidup. Kalau zaman itu saja sudah dianggap keruh, apalah lagi dengan zaman sekarang ini. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi menyatakan bahwa, “Kurun terbaik adalah kurunku, kemudian orang-orang yang berada di kurun sesudahnya, kemudian orang-orang yang berada di kurun sesudahnya.”

Menilik hadits itu sudah barang tentu zaman sekarang ini sudah jauh lebih buruk daripada era di mana Rasulullah masih ada, yang mana para sahabat itu mengatakan bahwa era mereka sudah teramat banyak kerusakan.
Sekarang ini kefasikan dan kemunafikan berkelindan dalam aspek-aspek kehidupan. Dan bergaul dengan mereka (orang fasik atau munafik), atau menceburkan diri dalam lingkungan mereka yang keruh itu, perlahan dan pasti akan membuat kita terpengaruh untuk menjadi keruh pula. Lambat laun, kekeruhan itu akan menyeret atau bahkan menghanyutkan kita; jauh dari kehidupan beragama, atau tetap berkecimpung dalam agama, tapi lebih pada aspek simbolis belaka.

Kefasihan berbicara tentang Tuhan tak jarang hanya sebagai bentuk pencitraan. Mempraktikkan peran agamis hanya untuk meraup keuntungan materi. Atau bahkan banyak pula yang memang terang-terangan meninggalkan tatanan agama. Maksiat yang kian hari kian meningkat; pembunuhan, perzinahan, korupsi, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan