Pandemi, Mendekatkan Diri pada Ilahi

Pandemi ini datang untuk mengajari kita, umat manusia ini, untuk menjauhi hal-hal buruk itu. Sama seperti pola virus dalam menyebarkan kerusakan, keburukan juga kian merebak hari demi hari karena satu keburukan menularkan keburukan pada orang lain. Satu kejelekan baru bisa menginspirasi orang lain untuk meniru kejelekan yang sama. Karena kejelekan itu dibawa oleh manusia, maka tidak terlalu dekat dengan manusia (uzlah) adalah sebuah bentuk upaya agar tetap selamat dari kejelekan dan kerusakan yang cukup efektif.

Kembali membahas uzlah, tentu saja yang dimaksud oleh Al-Ghazali bukan semata-mata uzlah dzohir, akan tetapi harus pula disertai dengan uzlah batin, dalam artian tidak sekadar menyendiri di rumah untuk bisa disebut uzlah. Akan tetapi, uzlah adalah menyendiri untuk kemudian mendekatkan diri pada ilahi dengan cara melakukan hal-hal yang bernilai positif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Imam Ghazali pernah mendapatkan kisah dari Sufyan bin Uyainah. Dia meminta nasihat pada Sufyan Tsauri. Mendengar permintaan itu, Sufyan Tsauri menasihati Sufyan bin Uyainah untuk mengurangi pergaulan dengan manusia. Sufyan bin Uyainah lantas memprotesnya karena ada hadits yang memerintahkan untuk memperbanyak bergaul dengan manusia, alasannya karena setiap orang yang mukmin bisa memberi syafaat.

Sufyan Tsauri menimpali bahwa kebencian seseorang selalu lahir pada orang yang pernah dikenalnya. Bukankah kita tak pernah membenci seseorang yang tak pernah kita kenal? Ketika Sufyan Tsauri telah meninggal, Sufyan bin Uyainah bermimpi berjumpa dengannya, dan dia kembali minta nasihat. Jawaban Sufyan Tsauri pun tetap sama seperti dulu ketika masih hidup. Bahwa sebisa mungkin ia harus mengurangi pergaulan dengan manusia, karena bersihnya hati untuk selalu berpikiran positif pada tindak-tanduk orang lain adalah sebuah perkara yang berat. Maka, mengurangi pergaulan akan mengurangi pikiran-pikiran negatif.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat semua orang menjauh dari pergaulan. Karena tidak bisa dimungkiri dalam bergaul pun terdapat pula banyak manfaat (misalnya mengajak kebaikan pada mereka yang belum baik). Akan tetapi, bergaul dengan orang fasik, lantas mengajak mereka menuju kesalehan bukanlah keahlian yang dimiliki oleh semua orang. Kebanyakan, bergaul dengan orang fasik kemudian menjadi tertular kefasikan itu.

Tinggalkan Balasan