Aku tertawa kemudian bergegas meninggalkan kelas bersama Parit, karena memang baunya mampu membuat hidung pengar dan perut mual. Aku dan Gus Parit berjalan ke masjid kampus untuk melaksanakan salat Jumat. Seperti biasa, sebelum muadzin dan khatib berdiri melaksanakan rukun Jumat, ada pengumuman dari pihak kampus. “Akan kami bacakan beberapa nama donatur yang menyumbangkan uang untuk korban bencana.” Lalu diumumkanlah nama-nama mahasisiwa penyumbang dengan besaran sumbangannya. “Hamba Allah, seratus ribu,” menjadi kalimat yang terakhir dari pihak publikasi.
Gus Parit kemudian menyenggolku, “Hamba Allah itu aku!” diiringi senyum bangga. Aku terpana, bukan karena amal yang diakuinya sebagai bentuk ketidakikhlasan menurutku, tapi lebih dari pikiran bagaimana seorang Gus Parit mampu menyumbang seratus ribu. Kiriman sering telat. Makan mi menjadi rutinitas. Utang di warung kopi tak terhitung berapa gelas. Dan jelas aku tahu, bagaimana kondisi perekonomian keluarganya. Gus Parit kok sok banget, sok-sokan amal, sok-sokan memaksa nyumbang. Padahal kehidupan kosnya morat-marit.

Dalam hati, aku tidak terima. Aku masih ingat kata guru ngajiku. Kalau harta lihat ke bawah, tapi kalau amal ibadah lihatlah ke atas. Maka, Jumat depan aku harus beramal lebih dari Gus Parit yang “Hamba Allah” disebutkan tadi. Tapi, paling tidak samalah, karena aku juga harus makan. Kompetisi dimulai.
Salat Jumat berikutnya, tekadku menyaingi si Hamba Allah menggebu. Ketika disebutkan namaku oleh takmir bagian publikasi, “Saudara Faisal dengan donasi sebesar dua ratus ribu.” Aku tersenyum melihat Gus Parit di sampingku. Rasakan, dikira apa kamu saja yang mampu beramal. Aku juga mampu.
Kemudian, takmir melanjutkan lagi, “Hamba Allah, dengan donasi tiga ratus ribu rupiah.” Gus Parit melihatku tanpa berkata. Matanya berbinar dengan kedua alis yang diangkat dibarengi senyum kecil yang tak manis. Senyumannya terkesan meremehkanku. Tatapannya seolah berkata, “Kalah kau! kamu dua ratus, aku si Hamba Allah tiga ratus,” semakin dongkol aku dibuatnya.
Demi prestise, aku bertekad akan beramal lebih dari “Hamba Allah”. Maka, aku merelakan sarapan pecel pagiku, demi makan siang saja agar tahan sampai sore. Malamnya aku makan mi rebus yang sengaja kubuat pedas, agar kenyangnya terasa sampai pagi. Terhitung seminggu aku melakukan ritual tersebut. Dan kukumpulkan uang jajanku demi donasi untuk Jumat berikutnya. “Awas kau ya, si Hamba Allah!”
Jumat yang kunanti tiba, senyum kemenangan sebentar lagi akan mengukir wajahku. Dan kemuraman akan tampak di wajah Gus Parit. The Champ is me.
Takmir masjid kampus mulai membacakan, ini adalah momen yang kutunggu selama seminggu. Tunggu kamu si Hamba Allah, “Saudara Faisal dengan donasi tiga ratus lima puluh ribu rupiah.”
“Ha-ha-ha,” aku tertawa dalam hati. Pasti ini yang disebutkan terakhir, tidak ada lagi “Hamba Allah” yang menyaingiku. Tapi, “Hamba Allah dengan donasi lima ratus ribu rupiah.” Demi Allah! Aku terhenyak. Bagaimana mungkin Gus Parit mampu. Karena aku tahu, sebulan ia dikirim hanya lima ratus ribu. “Apa yang Parit pikirkan? Mau makan apa kamu sebulan, Rit! Ngutang lagi! Ikut makan denganku, jangan mimpi uang sakuku nge-pres.” Jengkel aku melihat Gus Parit. Ia tidak menyenggolku, tidak juga menatapku, tapi menunduk, seperti tidak terjadi apa-apa. Bagiku, sikapnya itu adalah sebuah keangkuhan. Memaksa melebihi amalku, kompetisi donasi, tanpa memikirkan imbas setelahnya.
Tidak kuat menahan jengkelku, setelah Jumatan selesai, aku seret keluar masjid. Aku interogasi darimana ia mendapatkan uang banyak itu. Total tiga kali Jumatan sudah delapan ratus ribu. Uang dari mana. Judi online? Ini tidak bisa diterima. Uang haram tetap haram meski dipakai amal.
“Rit! Kamu dari mana mendapatkan uang itu untuk beramal?” tanyaku
