Gus Parit terkejut, “Amal apa, Sal? Aku tidak ngamal. Jika iya, aku hanya memasukkan dua sampai lima ribu ke kotak amal. Bukan yang disebutkan takmir tadi.”
Aku kaget, “Lah! Katanya kemarin Hamba Allah itu kamu. Kamu bilang sendiri waktu itu.”

“Ha-ha-ha.Ya semua hamba Allah, Sal. Aku, kamu, mereka, semuanya hamba Allah. Hamba siapa lagi?”
Aku semakin tidak mengerti, “Jadi yang disebutkan tiga kali selama Jumatan sebagai hamba Allah itu bukan kamu?”
“Jelas bukanlah! Hamba-hamba Allah yang lainnya, yang dermawan. Aku? Duit darimana, Sal? Utangku di warung masih banyak, kiriman juga pas-pasan.”
“Lalu, maksud kamu menatapku Jumat kemarin dan menunduk tadi apa, Rit?” aku semakin lemah.
“Aku menatapmu karena kagum. Kamu anak kos bisa menyisakan uang jajan untuk menyumbang. Aku menunduk karena aku malu, Sal. Amal saja belum bagaimana meraih ikhlas.”
Bagai ikan yang kaget ketika di daratan. Klepek-klepek. Rasa kompetisi donasiku, perjuanganku menyisihkan demi menyumbang lebih besar dari si Hamba Allah, senyum kemenangan yang ingin aku sunggingkan karena merasa mengalahkan Gus Parit alias Hamba Allah, yang ternyata… Ah!
Uangku, perjuanganku, senyum kemenanganku, sirna, muksa, dan takbir, tahmid, tahlil, istighfar, istighasah, hawqalah… kurapal campur aduk bergantian. Bergelut antara penyesalan dan takut akan ketidakikhlasan, maka akan menjadi kesia-siaan. Kutatap wajah Gus Parit yang tampak tak berdosa. Kupaksa tersenyum meski asem, pahit, kecut, getir, semua rasa.
“Hebat kamu, Sal. Sekarang tiba waktunya kamu kentut. Lakukan dan lupakan! InsyaAllah ikhlas kamu dapatkan,” Gus Parit menasihati di tengah pergumulan realisme, skeptisme, nihilisme, dan positivisme. Takbir, tahmid, tahlil, istighfar, istighasah, hawqalah.. .campur aduk kurapal lagi.
