Selesai menyampaikan maksud kedatangannya, tamu pun pamit. Emak pun pamit ke Gus Parit untuk pergi ke toko membeli makanan. Tinggal Gus Parit sendiri memutar otak karena harus segera menyusul ke majikan si tamu tadi, berdasarkan alamat yang diberikan.
Ketemu. Gus Parit dengan ragu mengetuk pintu si empu rumah majikan yang dimaksud si tamu tadi. Ternyata, kedatangan Gus Parit telah dinanti-nanti. Tampak suami istri sumringah melihat kedatangan Gus Parit, “Monggo monggo. Sekarang dukun sudah regenerasi ya. Biasanya tua-tua, sepuh-sepuh, sekarang sampeyan yang masih muda sudah bisa menjadi dukun,” sapa juaragan laki-laki, Pak Parto.

Gus Parit tersenyum pahit, dengan berlagak sok dukun ia duduk dan memerhatikan sekitar ruang tamu, lalu memegang tangan si majikan, “Wah, ini sepertinya terkena vertigo. Eh sebentar, emmmm, ada migrainnya. Dalam dunia perdukunan ini dinamakan vertigren. Separo vertigo separo migraine. Jadi vertigren,” celoteh Gus Parit sambil manggut-manggut.
Bu Parto yang dipegangi tangannya oleh Gus Parit terpaku, “Wah, hebat sampeyan mas dukun. Bisa mengecek hanya dengan menyentuh tangan.”
“Ooo… sayaaa. Vertigren ini awalnya adalah sakit kepala. Setelah mengalami reaksi kimia yang disebabkan bakteri tomcat mengakibatkan interaksi komplikasi oleh ion lactobasilus dan bakteri anoda dan katoda, kemudian sakitnya akan berkontraksi ke seluruh anatomi tubuh,” jelas Gus Parit.
Pak Parto yang sedari tadi diam terpana mencoba menimpali, “Hebat mas dukun ini! Sampai ludahku menetes mendengar penjelasan sampeyan. Tapi itu yang dipegang tangan istriku mas dukun. Bukan anakku yang sakit”
Gus Parit salah tingkah, “Waduh, sudah telanjur kubocorkan kejadian ilmiahnya tadi. Lalu mana yang sakit? Bawa sini…”
Pak Parto kemudian masuk ke sebuah kamar dan kembali dengan anak perempuannya. Kira-kira beda 5 tahunan dengan Gus Parit. Anak perempuan dewasa yang bisu, bertingkah seperti anak kecil, pandangannya kosong, dan entah dengan siapa, ia seperti berkomunikasi dengan makhluk dari dunia lain.
Gus Parit terheran karena belum pernah melihat sakit aneh seperti yang dilihatnya sekarang, “Baiklah! Setelah ini saya akan mengobatinya. Tapi ada syaratnya. Kalian harus pergi dari sini. Tidak boleh melihat saya mengobati. Bagaimana?”
Pak dan Bu Parto mengiyakan. Keduanya segera pergi meninggalkan Gus Parit dan anak perempuannya. Gus Parit melihat keadaan sekitar ruangan. Clinguk sana, clinguk sini. Memastikan keadaan aman. Tidak ada orang di sekitarnya.
Merasa aman, Gus Parit memandangi anak perempuan juragan tadi, dan tiba-tiba, “Ampun, ampun, saya ini sebenarnya bukan dukun. Saya mahasiswa pengangguran. Yang terpaksa mengaku dukun. Katakan ada apa? Bagaimana saya bisa mengobati? Kalau saya tidak bisa mengobati ndoro, saya bisa urusan polisi karena pasal penipuan.”
Anak perempuan juragan tadi diam mendengar Gus Parit memohon ampun. Tersenyum. Memastikan keadaan juga aman dan berkatalah ia, “Ha-ha-ha…, saya sebenarnya tidak sakit mas dukun. Badan saya sehat, tapi jiwa saya yang sakit. Karena orang tua saya melarang kuliah. Mereka menyuruh saya pergi saja ke luar negeri, jadi TKW. Meski sebenarnya orang tua saya mampu menguliahkan saya.”
Gus Parit tersenyum lega, selega-leganya, “Ooo, baiklah kalau begitu ndoro. Begini saja, kita kong kalikong saja.”
Gus Parit dan anak perempuan yang ternyata bernama Ita, berbisik-bisik berdiskusi untuk menentukan selanjutnya. Setelah selesai, Ita berlari ke sana ke mari sambil menjerit histeris.
Gus Parit berteriak memanggil juragan, “Pak Parto! Bu Parto! Kesini cepat bawakan air putih.”
Tergopoh kedua orang tua Ita mendekati Gus Parit sambil membawakan segelas air putih. Diserahkan kepada Gus Parit, yang terlihat komat-kamit. Lalu, Gus Parit berteriak, “Hadiirrr! Tunjukkan eksistensi kalian!”
Ita yang semula histeris, kemudian tenang. Gus Parit segera meminumkan air putih yang sudah dijampi-jampi tadi. Setelah meminumnya, Ita membuka mata dan tersenyum, “Alhamdulillah. Pak, Bu..Ini Ita sudah sembuh.”
Pak Parto dan istri kegirangan, “Gusti Allah, matur suwun. Kamu sudah sehat, nduk! Kabar baik ini, kamu besok tak daftarkan ke PJTKI, untuk segera bisa diurus agar cepat jadi TKW, kerja ke luar negeri, dapat duit banyak. Ya kan bune?”
Ita yang semula sudah tenang, bertingkah lagi, ia ke sana ke mari, berteriak tidak jelas.
Bu Parto bingung, “Gimana ini mas dukun, ko masih kumat belum waras?”
Gus Parit tersenyum, “Ini sebenarnya akar permasalahannya. Ita, anak ibu mengalami tekanan mental, fungsi-fungsi saraf motoriknya terganggu. Mengakibatkan asam lambung meningkat, terjadi penyumbatan di prostat, sehingga aliran haemoglobin dan trombosit tidak lancar.”
“Lalu, bagaimana agar Ita bisa sembuh mas dukun?”
“Gampang, tenangkan pikirannya, jernihkan hatinya, muluskan cita-citanya. Akan saya coba untuk menyembuhkan terakhir kalinya. Ingat! ini yang terakhir lo, tidak bisa diulang lagi. Kalau gagal bisa cacat mental permanen ini.”
Segera Gus Parit mengambil sikap, diletakkan tangan di dahi Ita dan meminumkan sisa air putih tadi. Ita kembali tenang dan tersenyum kembali.
Bu Parto pun lega, “Sudahlah pak ne, biarkan Ita lanjutkan sekolahnya. Kita tidak usah memaksanya jadi TKW.” Pak Parto pun mengiyakan. Tampaknya masalah Gus Parit juga sudah selesai.
Selesai dengan kejadian tersebut, Gus Parit sumringah, karena segepok uang dalam ampok di genggaman. Siap diberikan kepada ibunya. Ia berjanji setelah ini akan mengajak Faizal bekerja apa saja. Tidak mengapa tidak sesuai bidang. Asalkan tidak diam, yang penting produktif, halal, dan menghasilkan. Kuliah untuk mencari ilmu, status sosial, bukan ijazah, popularitas, apalagi kerja, keduanya adalah bonus, hadiah, dengan meluruskan niat. Wallahualambisshawab.
