Panggil Aku Gus Parit (4)

“Waalaikumsalam, Rit! ”

Setelah Gus Parit pergi, Faizal melihat ada orang asing di depan rumahnya tampak kebingungan. Faizal bergegas mendekatinya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ada yang bisa saya bantu, Pak? Kok sepertinya kebingungan,” tanya Faizal.

“Iya mas. Ini saya nyari orang. Katanya di kampung ini ada orang pintar? Untuk menyembuhkan anak juragan saya, mas. Sakitnya aneh,” jawab orang tersebut.

Faizal tersenyum licik, ini untuk saatnya membalas Gus Parit. “Oya ada Pak. Memang benar di kampung ini ada orang pintar. Bisa menyembuhkan segala penyakit. Mari mampir sebentar, saya tunjukkan nanti.”

Sebenarnya Faizal tahu, yang dimaksud orang pintar di kampungnya adalah Mbah Kromo, yang sering dimintai jampi-jampi untuk menyembuhkan segala penyakit. Tapi, Faizal berpikiran lain.

Faizal mengajak orang asing tadi singgah sebentar di teras rumahnya untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang orang pintar yang dimaksud. Dirasakan sudah selesai dengan “petunjuk”, Faizal mempersilakan orang asing tersebut untuk mencari orang pintar yang dimaksud.

Di tempat lain, Gus Parit beranjak dari kali tempatnya memancing. Segera ia pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah segera ia makan dan kembali mendengar ceramah emaknya. Tetap dengan topik “KERJA!”.

Tidak berapa lama, terdengar pintu di ketuk. Emak Gus Parit segera membuka pintu.

“Assalamualaikum, bu! Saya mencari Gus Parit. Berdasarkan informasi, rumahnya di sini,” tamu tersebut menjelaskan maksud bertamunya.

“Waalaikumsalam… Iya, anak saya Parit, tapi tidak ada Gusnya, hanya Paa.. riiit,” jawab emak.

“Silakan duduk, Pak! Rit.., sini ada yang mencarimu,” emak memanggil Gus Parit.

Si tamu mencoba menjelaskan, “Saya ke sini berdasarkan info dari seorang anak muda. Jadi begini, anak juragan saya sakit aneh. Gagu, tiba-tiba bisu. Nah, saya dengar di kampung ini ada orang pintar dan namanya Gus Parit.”

Emak dan Gus Parit terkejut. Gus Parit mencoba mengelak, “Bapak ini aneh-aneh saja. Potongan seperti Rafi Ahmad gini mana ada potongan dukun. Ya pantesnya jadi artis.”

Si tamu tidak tampak terkejut, “Lo benar. Kata pemuda tadi, Gus Parit tidak akan mudah mengaku kalau sebenarnya dia dukun. Gus Parit ini senang pergi ke kali to…?”

“Iya, saya senang ke kali. Tapi bukan untuk nyepi, ke kali untuk mancing.”

Si tamu tersenyum, “La benar lagi to. Kata pemuda tadi Gus Parit senang pergi ke kali. Sunan Jogokali. Jadi, Gus Parit ini dukun kan? Orang pinter bisa menyembuhkan segala macam penyakit?”

Gus Parit menyeringai, “Ko ngeyel, saya ini bukan dukun, Pak!”

Si tamu tidak juga tampak marah, malah sumringah, “La..benar apa kata pemuda tadi, Gus Parit akan marah kalau dipaksa ngaku dukun. “Baik gini saja,” sambil menyerahkan uang 20 ribu, “Gus Parit dukun kan?”

“Bukan, Pak! Saya bukan dukun. Dibilangi kok ngeyel saja lo!”

Si tamu merogoh lagi lembar 50 ribu, “Sekarang dukun ya, dukun saja deh….”

Ibu Gus Parit mulai terpancing melihat uang tersebut, tapi Gus Parit tetap bersikukuh, “Bukan! Sekali lagi bukan dukun. Saya bukan dukun!”

Jurus terakhir, si tamu merogoh uang 100 ribuan, “Dengan ini, pasti mau jadi dukun?”

Belum sempat Gus Parit menjawab, emak langsung merebut lembar 100 ribu tadi, “Sudah Rit, dukun saja. Lumayan ini 100 ribu, dapat uang. Demi mak dan dua adikmu Rit!”

Gus Parit terdiam tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya lemas, membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Firasat buruk.

Si tamu menjelaskan lebih lanjut, bahwa Gus Parit diminta sesegera mungkin ke rumah majikannya untuk menyembuhkan anaknya yang tiba-tiba bisu. Padahal anak majikannya tersebut, rencananya akan ke luar negeri, jadi TKW.

Tinggalkan Balasan