Pantaskah Soeharto Dijadikan Pahlawan?

Pandangan Santri

Ada kaidah fikih yang menyebut Al-Yaqin La Yazulu Bisy-Syak (keyakinan tidak hilang karena keraguan). Kalau kita tarik benang merahnya dan mencoba sangkut-pautkan dengan problematika pengusulan Soeharto menjadi pahlawan nasional, maka jelas sekali menurut pandangan kami selaku alumni pesantren lebih baik keputusan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto patut ditinjau kembali karena dirasa kurang layak untuk dilanjutkan. Hal ini mengacu beragam pertimbangan atau jejak rekam yang jelas dalam lembar sejarah kelam selama kepemimpinannya. Dalam arti,  peristiwa-peristiwa yang terjadi selama kepemimpinan Soeharto itu sudah menjadi bukti yang meyakinkan keyakinan. Karena itu, tidak bisa dihilangkan apalagi ditutupi kebenarannya hanya untuk membersihkan namanya dari beragam catatan masalah yang sejarah sudah menuliskan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sekali lagi, pemerintah dalam menyikapi ini harus mengedepankan penilaian objektif, kehati-hatian, agar bisa betul-betul menghasilkan keputusan yang mencerahkan. Jangan sampai pemerintah tetap memaksakan sesuatu yang sudah menjadi ketidaksetujuan atau banyak penolakan, agar tidak memunculkan embrio gesekan yang bisa melahirkan perpecahan sebagaimana kaidah fiqih Al-Dharar yuzal (Kemadharatan harus dihilangkan).

Terakhir, saya yakin kalau untuk kalangan pesantren baik yang berstatus santri atau alumni bisa dikondisikan, karena seyogyanya santri tetap manut kiai. Cuma persoalannya sekarang tidak sedikit dari kiai dan panutan kita yang ikut menyuarakan penolakan.

Terakhir, saya ingin mengutip dari pernyataan dari ulama sepuh yang banyak dijadikan tauladan oleh beragam kalangan, yaitu KH Mustafa Bisri (Gus Mus). Gus Mus menuturkan, “Saya paling tidak setuju kalau Soeharto dijadikan pahlawan.”

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan