Lebih lanjut, dengan singkat tetapi menarik, Andrew Betty (dalam Variasi Agama di Jawa) melukiskan bahwa Slametan adalah “totalitas”, kerumunan ritual, yang terjadi dengan tetap menyepakati untuk berbeda.
“Totalitas”-nya mempesona, meski sebagai peristiwa komunal, ia tak juga mampu mendefinisikan komunitas secara tegas. Di dalam Slametan semua orang sepakat dengannya, tetapi tidak ada jaminan sedikitpun bahwa setiap orang setuju bagian-bagian tertentu darinya.

Dengan demikian, sebenarnya Slemetan lebih pas dikatakan sebagai komunalitas yang terdiri dari individu-individu yang bukan saja berbeda pandangan dan orientasinya, tetapi, dan ini yang penting, tetap berada dalam keber-beda-annya.
Saya, dalam konteks ini, sama sekali tak tertarik untuk mendiskusikan apakah Slametan merupakan inti atau pusat dari agama Jawa (Geertz) atau bukan sama sekali (Betty). Yang ingin saya tekankan dari Slametan adalah sebagai kerumunan dan makna yang bisa diproduksi darinya. Sebagai kerumunan, Slametan adalah bahasa argumen, bukan koor harmoni.
