Pantulan Kebhinekaan di Desa (4): Belajar dari “Slametan”

Di dalam Slametan, konsensus dapat terbangun, tetapi setiap individu tidak hanyut sama sekali. Kebersamaannya terjaga, tetapi representasi individu tetap mungkin dan dihargai. Bukankah kerumunan semacam itulah yang sebenarnya lebih mirip dengan kehidupan bersama, kehidupan masyarakat, dan juga kehidupan berbangsa.

Seperti halnya Slametan, kehidupan bersama, kehidupan bermasyarakat, dan kehidupan berbangsa terdiri dari individu dan kelompok yang berbeda (dari segi pekerjaan, taraf hidup, pendidikan, jenis kelamin, etnis, ras, agama, kepentingan, orientasi, pemikiran, dan lain-lain). Mereka berkerumun di suatu wilayah tertentu (Indonesia, misalnya) – dan pada masa tertentu pula – untuk merajut kebersamaan (konsensus) dan, sebutlah, demi tujuan besar yang diakui bersama. Kebersamaan mereka bukanlah suara koor harmoni, di mana individu maupun kelompok tenggelam di dalamnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Apakah ketika kita menyebut bangsa Indonesia berarti kejawaan, kebugisan, kemaduraan, kesundaan, keminangan, keacehan, kebatakan, serta-merta menjadi sirna dan tenggelam di dalamnya?

Juga seperti di dalam Slametan, setiap individu maupun kelompok dalam kehidupan bersama, kehidupan bermasyarakat, dan kehidupan berbangsa harus tetap diakui dan dihargai. Dalam kebersamaan dan kerumunan ini representasi dan hak-hak setiap individu maupun kelompok harus mendapatkan pengakuan dan penghargaan, betapa pun adanya, baik representasi maupun hak-hak dalam berpolitik, berekonomi, beragama, dan berbudaya. Dengan demikian, di dalam kebersamaan ini, ruang publik atau kebijakan publik harus tetap terbuka dan dapat diakses oleh setiap individu maupun kelompok yang tergabung ke dalamnya.

Tinggalkan Balasan