Dua orang itu datang lagi. Mereka mematung di pintu. Setiap mereka ke sini, Mak Ru tidak pernah mengizinkan mereka masuk. Kali ini Mak Ru tergolek tak berdaya. Namun karena Mak Ru terbaring menghadap ke pintu, Mak Ru tetap melihat keberadaan mereka.
“Bagaimana, Mak? Perlu kami bawa ke rumah sakit? Mak tak usah memikirkan biaya berobat. Semuanya biar kami yang tanggung,” kata salah seorang dari mereka.

Mereka masuk tanpa permisi. Mereka jongkok di hadapan Mak Ru, membuatku menyingkir dan memberikan mereka ruang. Mereka mengenggam tangan Mak Ru dan menciumnya. Aku tahu itu tipuan belaka. Mereka ingin mengambil hati Mak Ru yang tak pernah mereka dapatkan.
Sudah sebulan ini mereka datang ke rumah Mak Ru. Karena, di antara penduduk desa kami, Mak Ru adalah satu-satunya yang masih tak mau menjual sawahnya. Konon di sana akan dibuat hotel berbintang. Di sekitar desa Mak Ru telah tumbuh berbagai kawasan wisata. Tiap tahun jumlah wisatawan melonjak drastis. Mereka ada yang menginap di rumah penduduk, ada pula yang menginap di masjid-masjid besar sekitar desa.
Gua ditemukan di pinggir gunung, memiliki kecantikan tiada tara. Ada pemandian air panas. Lalu ada air sungai yang teramat jernih, yang belum terjamah oleh industri sehingga kejernihan air di dalam sungai itu, tampak dari daratan.
Setiap orang di kota, konon, mengidamkan keadaan semacam itu. Katanya, pikiran mereka akan tenang, damai, saat menghirup udara di kawasan sekitar Mak Ru tinggal. Dan entah dengan bujukan macam apa, kepala desa pun mengimbau penduduk untuk menjual tanah mereka kepada pemerintah. Pemerintah berjanji akan segera mengganti tanah itu dengan harga yang pantas. Namun Mak Ru dan aku pun tahu, meski surat telah berpindah tangan, tak sedikit dari mereka yang menjual tanahnya hanya baru mendapatkan sepuluh persen dari harga yang dijanjikan.
Bukan karena uang ganti rugi itu yang membuat Mak Ru bertahan. Akan tetapi, suaminya pernah berpesan, apa pun yang akan terjadi, sawah jangan sampai dijual. Apa jadinya jika seorang petani kehilangan tanahnya. Ia tidak hanya kehilangan tanah, tetapi juga kehilangan mata pencaharian. Itulah yang membuat banyak orang pergi ke kota, dengan upah yang katanya bergaji lebih baik, tetapi diperbudak waktu. Pekerjaan ditentukan oleh jam, begitupun kapan mereka pulang dan beristirahat. Kemerdekaan terenggut. Mereka yang terlambat gajinya dipotong, bahkan semenit terlambat dipotong satu jam. Bagaimana mungkin petani bisa merdeka dengan kehidupan semacam itu. Karyawan sakit akan dibenci atasan, apalagi terlalu sering sering bolos. Tak ada gaji jika tak berangkat bekerja.
Begitulah yang pernah disampaikan oleh almarhum suaminya Mak Ru. Memiliki sawah sendiri artinya mereka menjadi orang merdeka. Apa yang kurang dari desa yang mereka tinggali? Segalanya ada. Kebutuhan pokok tercukupi dengan ladang dan sawah yang dipunya. Di sungai mereka terbiasa menangkap ikan-ikan darat.
