Pertanyaannya kini: apakah kita masih mau membiarkan patriarki terus membisukan tangisan anak-anak kita? Atau sudah saatnya kita memilih untuk menjadi generasi yang memutus rantai trauma ini—dengan kembali ke ruh Islam yang sebenarnya: Islam yang memuliakan ayah sebagai qawwam yang penuh rahmah, bukan diktator yang absen secara emosional?
