“Ayo berisik lagi!!” tegasnya, dengan muka merah padam.
“Kalian ini sudah tua, masih saja bersifat anak kecil. Minimal ingat umur sama waktu. Sekarang sudah jam tidur. Waktunya tidur, bukan malah berkelahi.”

Sejenak Ustaz berhenti, lalu menyapukan pandangannya pada tumpukan semen yang tergeletak di atas lantai. Ia berpaling menatap Anki yang tengah duduk tak berdaya. Ia paham betul yang tergeletak di lantai adalah patung milik Anki.
“Ada apa ini, Anki?”
“Kecelakaan, Ustaz,” jawab Anki sedikit memaksa.
“Faisal pelakunya, Ustaz. Dia telah menghancurkan karya Anki yang sudah susah payah dia buat,” Malik menyela.
Tanpa menunggu lebih lama, Ustaz tahu apa yang harus ia lakukan.
***
Ruang hening. Suara jangkrik sesekali berbunyi di antara mereka berdua, di antara Anki yang duduk berhadap-hadapan langsung dengan Faisal di atas kursi. Ustaz pun duduk di antara mereka berdua. Ia juga sadar bahwa Malik dan segenap teman-temannya tengah mengintip di balik pintu.
“Ustaz, dia membuat patung. Dia menyekutukan Tuhan kita,” Faisal memulai. Ustaz menatapnya, lantas beralih pada Anki.
“Tujuan saya membuat patung-patung itu murni untuk pameran, tak ada yang lain.”
“Saya berani bersumpah, demi tuha-”
“Halah, alasan dia saja itu, Ustaz. Sudah jelas-jelas kamu menyerupai dan mengikuti agama orang-orang pagan.”
