Patung yang Memegang Kapak di Tangannya

“Sudah Faisal!! aku tak memintamu untuk bicara. Lagi pula Anki sudah bilang bahwa dia membuat patung hanya untuk pameran.”

“Tapi, Ustaz, selama saya mengaji kitab gundul, tak ada satu pun kitab yang memperbolehkan pembuatan patung, saya berani menjamin itu.” Faisal meyakinkan Ustaz yang amarahnya kian memuncak. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. Ia menatap wajah mereka berdua. Ia menemukan jalan keluar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Baiklah, untuk sementara, karena kiai masih berada di luar kota, saya ingin kalian berdamai. Jangan sampai membuat keributan di jam tidur lagi, atau kalian sendiri yang akan menanggung akibatnya,” tegas Ustaz. Namun Anki hanya mendongak, menatap Ustaz dengan mata kecewa. Belum sempat ia bicara, Anki beranjak meninggalkan mereka berdua.

Tak lama berselang, Faisal turut meninggalkan kantor pesantren dengan ekspresi tak indah pula. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari batas pintu, matanya menangkap pemandangan yang akan selalu mustahil ia percaya. Ia berdiri di tengah-tengah lautan luas tak berujung. Di depannya terdapat patung raksasa dengan wajah mirip kiai. Patung itu terbuat dari pecahan-pecahan kecil yang tak asing di benaknya.

Faisal menatap mata patung itu sendu. Ia merasa bahwa patung itu benar-benar mirip dengannya. Faisal berbalik—berharap pintu masih berada di sana, lantas ia bisa kembali pada dunia yang seharusnya ia tempati. Namun nihil, ia hanya melihat lautan dengan air ungu tak bertepi. Ruang itu sunyi, bahkan ia dapat mendengar denyut jantungnya sendiri. Sehingga kini ia yakin bahwa di sana hanya ada dirinya—hanya ada dirinya dan patung raksasa yang sedang berdiri di belakang dan senantiasa memperhatikannya.

“Wahai anakku yang malang…,” Faisal mendengar suara yang lagi-lagi tak asing di telinganya. Ia pun berbalik kembali untuk melihat patung itu.

“Sungguh baik niatmu untuk menolong saudaramu.” Kini ia dapat memastikan bahwa patung itu benar-benar bicara. Namun ia tak melihat mulut patung itu bergetar sedikit pun. Kini ia merasa bahwa dia berada di batas antara kenyataan dan khayalan.

“Namun, Faisal, kitabmu belum cukup untuk menyikapi patung-patung yang saudaramu itu buat.” Suara itu khas kiai, tetap dengan selingan tawa di antara pembicaraannya. Jantung Faisal berdetak tak teratur, matanya membelalak tak percaya. Ia sangat ingin berbicara lantas menjawab, namun apa daya, ia tak mampu mengucap satu kalimat pun. Seolah ada sesuatu yang menyumbat pita suaranya.

***

Faisal terperanjak bangun. Dengan napas tergesa ia bangun di kamarnya yang masih gelap gulita. Tak lama kemudian, benaknya memaksa beranjak menuju ruang kesenian untuk memastikan bahwa semua yang ia alami bukan sekadar mimpi belaka.

Dengan hati-hati ia melangkah di antara barisan teman-temannya yang sedang tertidur. Ia membanting pintu ruang seni. Hingga akhirnya ia mematung tak percaya.  Di sana, ia melihat Anki tertidur pulas di antara patung-patung yang berdiri tegak saling menatap satu sama lain. Seolah tak ada yang terjadi.

Tubuh Faisal bergetar tak dapat percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Ia mundur perlahan seraya menutup pintu rapat-rapat. Ia berdiri di balik pintu dengan jantung yang berdetak kencang. Ia mengangkat pandangannya—menatap bulan yang asyik berenang di antara kepulan awan.

Tinggalkan Balasan