Oleh sebab itu, menurut Gus Dur, diperlukan adanya penafsiran baru sesuai dengan perubahan yang ada. Lagi pula, kepemimpinan pada masa sekarang tidak berbentuk perseorangan (individual leadership) seperti kepemimpinan suku atau kaum, melainkan kelembagaan di mana pemimpin mengambil keputusan melalui sidang kabinet dengan menteri yang juga mayoritas laki-laki.
Perihal kedua, ketika ditanya bagaimana pandangannya tentang poligami dalam salah satu wawancara, jawaban Gus Dur tidak serta merta menempatkan dirinya menjadi orang
yang diberikan “hak” untuk itu.

Tetapi, ia menjelaskan bagaimana orang seringkali salah menafsirkan tentang hal ini. Karena, jika dilihat secara sosio-historis, dahulu laki-laki di Arab diperbolehkan memiliki istri berapa saja, tetapi ajaran Islam datang kemudian menguranginya menjadi hanya empat saja.
Menurut Gus Dur, alasan empat adalah karena managable waktu. Akan tetapi, hal yang paling penting dalam hal ini adalah bagaimana laki-laki dapat bersikap adil terhadap istri satu dengan lainnya baik dalam belanja lahir maupun batin.
Di sini, Gus Dur mengungkapkan bahwa ia tidak bermaksud menggugat Islam dengan pernyataannya, akan tetapi ia lebih melihat dari sisi psikologi perempuan. Menurutnya, sepanjang pemahaman Gus Dur, tidak ada perempuan yang mau dipoligami.
Ketika laki-laki ingin melakukakannya, maka harus bertanya dulu kepada istrinya. Jika istrinya tidak memperbolehkan, jelas hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh seorang suami. Jika
diperbolehkan, ya, silakan.
Kata Gus Dur, “Ya, kalau istrinya nggak boleh, ya sudah. Sebab, saya yakin nggak ada istri yang mau. Kalau sampai ada yang mau —jangan dipaksa lho ya—pasti kelainan. Tetapi, sepanjang yang saya paham, tidak ada istri yang mau.”
Perempuan seharusnya lega usai membaca pandangan dari tokoh besar sekaliber Gus Dur. Keberpihakkannya kepada keadilan rupanya memang sejak dalam pikiran yang kemudian implementasinya bisa kita lihat bersama melalui sikap yang diambil oleh Gus Dur. Pembelaan tanpa keraguan selalu ditunjukkan Gus Dur di hadapan banyak orang.
