Pendidikan Islam: Problematika Dikotomi “Ilmu Agama” dan “Ilmu Dunia”

Ironisnya, meskipun ranah kognitif mendominasi, ruang bagi berpikir kritis hampir tidak tersedia. Akibatnya, lahirlah lulusan yang tahu banyak tetapi tidak mampu memahami secara mendalam. Mereka dapat mengutip dalil, tetapi gagap ketika dihadapkan pada realitas yang kompleks. Di sinilah terlihat paradoks pendidikan Islam: ia kaya dalam teks, tetapi miskin dalam konteks.

Krisis Fungsi Sosial

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dampak dari sistem yang dikotomis dan kognitif-sentris ini terasa nyata. Jumlah lulusan lembaga pendidikan Islam meningkat, tetapi daya serapnya dalam dunia kerja justru menurun. Banyak sarjana agama yang tidak terserap dalam pasar kerja modern dan akhirnya menjadi beban sosial. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam gagal menjelma sebagai investment of human capital.

Padahal, Islam tidak pernah menolak realitas dunia. Islam justru menuntut umatnya untuk iqra’, membaca, memahami, dan berinteraksi dengan dunia. Pendidikan Islam yang menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat akan terjerumus menjadi sistem eksklusif yang tidak relevan. Ia akan kehilangan fungsinya sebagai sarana pemberdayaan manusia dan hanya menjadi alat pelestarian simbol-simbol religius tanpa daya transformatif.

Dari Dogma Menuju Dialog

Karena itu, pendidikan Islam harus dikembalikan kepada wataknya yang terbuka dan dinamis. Islam bukan sistem yang statis, tetapi sistem pengetahuan yang open-ended, senantiasa dapat direvisi dan disesuaikan dengan tantangan zaman. Pendidikan Islam harus membuka ruang bagi integrasi antara wahyu dan akal, antara iman dan ilmu, antara spiritualitas dan rasionalitas.

Al-Qur’an sendiri sebenarnya sudah membicarakan itu dari awal mengenai aspek pendidikan, baik spiritual, intelektual, maupun spiritual. Allah SWT berfirman:

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”. (Q.S As-Shad [38]: 29).

Tinggalkan Balasan