Pendidikan Islam: Problematika Dikotomi “Ilmu Agama” dan “Ilmu Dunia”

Menolak perkembangan ilmu pengetahuan atas nama menjaga kemurnian agama adalah bentuk ketakutan epistemologis yang tidak berakar pada tradisi Islam. Para ulama besar masa lalu justru berani berdialog dengan filsafat Yunani, ilmu kedokteran, dan logika Aristoteles tanpa merasa kehilangan iman. Mereka memahami bahwa kebenaran ilmiah tidak mengancam wahyu, tetapi memperkaya pemahaman manusia terhadap ciptaan Tuhan.

Antara Pasar dan Spiritualitas

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi masih saja ada sebagian kalangan yang menolak inovasi pendidikan Islam dengan alasan bahwa hal itu berarti tunduk pada sistem pasar dan logika kapitalisme. Argumen ini memang memiliki bobot etis, sebab pendidikan sejatinya tidak boleh hanya berorientasi pada profit atau industrialisasi manusia. Namun, di sisi lain, menolak realitas sosial ekonomi modern sama artinya dengan menolak kenyataan.

Dan kalau kita lihat perjalanan perkembangan keilmuan, itu bukan murni hasil perumusan ilmuwan klasik. Artinya, pendidikan tidak akan muncul tanpa nilai-nilai yang mendasarinya. Pendidikan berkembang seiring dengan menguatnya konsep pendidikan yang mengarah pada bagaimana pendidikan dapat disesuaikan dengan tingkat kebutuhan lapangan kerja. Itu sudah tidak bisa dibantah.

Memang, tujuan pendidikan Islam orientasinya bukan dengan pasar, tetapi menyiapkan manusia agar mampu memaknai dan mengarahkan pasar sesuai nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam yang baik bukanlah yang menolak modernitas, melainkan yang mengislamkan modernitas, menjadikannya sarana kemaslahatan, bukan perbudakan baru.

Integratif dan Transformatif

Pendidikan Islam masa depan harus berani merekonstruksi paradigma lama yang dikotomis. Ia harus memadukan dimensi ‘ulum ad-din dan ‘ulum ad-dunya dalam satu sistem epistemologi tauhidik. Dengan demikian, ilmu tidak lagi dipilah antara “agama” dan “dunia”, tetapi dilihat sebagai jalan menuju pengabdian total kepada Tuhan.

Kualitas pendidikan Islam akan sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mampu melahirkan lulusan yang berpikir kritis, berakhlak, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Hanya dengan paradigma integratif inilah pendidikan Islam dapat keluar dari keterbelakangan dan menjadi pilar peradaban baru yang kaffah, komprehensif, dan berdaya guna.

Tinggalkan Balasan