Dalam keterangannya pada 30 Oktober 2026, Kementerian Agama menyampaikan bahwa sejumlah lembaga pendidikan di Italia dan Vatikan menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari pengalaman Indonesia dalam membangun kerukunan beragama. Salah satunya adalah Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies (PISAI), lembaga pendidikan di bawah Takhta Suci Vatikan. Ketertarikan tersebut membuka peluang kolaborasi pendidikan, dialog antaragama, dan pertukaran pengetahuan. Hal ini menjadi perkembangan positif karena pengalaman Indonesia memperoleh ruang untuk diperkenalkan dalam percakapan internasional mengenai perdamaian dan keberagaman.
Indonesia dan Pembelajaran Kerukunan Beragama bagi Italia

Ketertarikan Italia dan Vatikan untuk mempelajari pengalaman Indonesia patut disambut sebagai peluang memperkuat hubungan antarbangsa. Dalam konteks ini, Indonesia tidak hanya ditempatkan sebagai negara yang menerima pengetahuan dari dunia internasional, tetapi juga sebagai bangsa yang memiliki pengalaman sosial, historis, dan kebudayaan untuk dibagikan. Pancasila, pengalaman pluralisme Gus Dur, serta kebijakan moderasi beragama dapat menjadi bahan pembelajaran dalam membangun kehidupan masyarakat yang menghargai perbedaan.
Baca Juga: Menjaga Persatuan dalam Keberagaman Agama
Ada beberapa aspek yang dapat dipelajari melalui pengalaman Indonesia. Pertama, bagaimana Pancasila menjadi titik temu bagi masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Kedua, bagaimana dialog antaragama dapat dikembangkan melalui keterlibatan negara, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil. Ketiga, bagaimana nilai pluralisme dan moderasi beragama dapat diterjemahkan menjadi praktik kehidupan sosial yang menjunjung kesetaraan dan kemanusiaan.
Pengalaman Indonesia dalam membangun kerukunan beragama merupakan modal penting untuk memperkuat diplomasi keagamaan di tingkat internasional. Langkah Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Nasaruddin Umar patut diapresiasi sebagai upaya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia kepada dunia. Namun, pengakuan internasional tersebut juga perlu menjadi dorongan untuk terus memperkuat toleransi, melindungi kebebasan beragama, dan memastikan setiap warga negara memperoleh hak yang setara. Sebab, keberhasilan Indonesia menjadi inspirasi bagi dunia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan gagasan di forum internasional, tetapi juga oleh kesungguhan mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
