Sesi pertama menghadirkan Dr. Abdul Rosyid, M.A., penyunting buku Atlas Wali Songo. Ia menyoroti bahwa penulisan sejarah Indonesia hingga kini masih banyak dipengaruhi cara pandang kolonial yang lebih menonjolkan sejarah para raja dan kekuasaan. Akibatnya, peran Walisongo sebagai tokoh penting dalam perkembangan Islam di Nusantara belum memperoleh tempat yang layak dalam historiografi nasional.
Menurut Abdul Rosyid, Walisongo selama ini sering diposisikan di antara sejarah dan mitos. Padahal, mereka bukan hanya penyebar agama, melainkan juga pemimpin spiritual, pendidik, dan penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat. Karena itu, penulisan sejarah perlu kembali bertumpu pada sumber-sumber primer agar peran Walisongo dapat dipahami secara lebih utuh dan objektif.

Pada sesi berikutnya, Dr. H. Wahyu Iryana, S.Hum., ChRMP., membahas Walisongo dalam perspektif historiografi Islam. Ia menjelaskan bahwa kajian mengenai Walisongo sering terjebak pada dua kutub, yakni narasi yang terlalu mengagungkan tokoh atau pendekatan sejarah yang terlalu kaku. Menurutnya, keduanya perlu dipadukan agar menghasilkan pemahaman sejarah yang lebih menyeluruh.
Ia juga menjelaskan bahwa Walisongo merupakan bagian penting dari jaringan intelektual Islam yang melahirkan tradisi pesantren dan memperkuat transmisi sanad keilmuan di Nusantara.
