Penulisan Sejarah Islam Harus Diperkaya

Asosiasi Program Studi Sejarah Islam se-Indonesia (APSII) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Walisongo dalam Historiografi Islam: Fakta Sejarah dan Penulisan Sejarah Kritis” secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (16/7/2026). Dalam webinar terungkap akan pentingnya memperkaya penulisan sejarah Islam.

Kegiatan ini diikuti dosen, mahasiswa, dan pegiat sejarah dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia sebagai ruang diskusi untuk mengkaji kembali sejarah Walisongo melalui pendekatan historiografi yang lebih kritis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Webinar dibuka dengan sambutan Ketua Umum APSII, Ahmad Abas Musofa, yang menegaskan pentingnya membangun tradisi penulisan sejarah Islam yang berpijak pada sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Menurutnya, kajian sejarah tidak cukup hanya mengulang narasi yang telah berkembang di masyarakat, tetapi juga harus didukung penelitian dan pembacaan kritis terhadap berbagai sumber sejarah.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., dalam sambutannya mengapresiasi APSII yang terus menghadirkan ruang diskusi ilmiah bagi para akademisi. Ia berharap forum seperti ini dapat memperkuat tradisi riset dan melahirkan kajian-kajian baru mengenai sejarah Islam di Indonesia.

Sesi pertama menghadirkan Dr. Abdul Rosyid, M.A., penyunting buku Atlas Wali Songo. Ia menyoroti bahwa penulisan sejarah Indonesia hingga kini masih banyak dipengaruhi cara pandang kolonial yang lebih menonjolkan sejarah para raja dan kekuasaan. Akibatnya, peran Walisongo sebagai tokoh penting dalam perkembangan Islam di Nusantara belum memperoleh tempat yang layak dalam historiografi nasional.

Menurut Abdul Rosyid, Walisongo selama ini sering diposisikan di antara sejarah dan mitos. Padahal, mereka bukan hanya penyebar agama, melainkan juga pemimpin spiritual, pendidik, dan penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat. Karena itu, penulisan sejarah perlu kembali bertumpu pada sumber-sumber primer agar peran Walisongo dapat dipahami secara lebih utuh dan objektif.

Pada sesi berikutnya, Dr. H. Wahyu Iryana, S.Hum., ChRMP., membahas Walisongo dalam perspektif historiografi Islam. Ia menjelaskan bahwa kajian mengenai Walisongo sering terjebak pada dua kutub, yakni narasi yang terlalu mengagungkan tokoh atau pendekatan sejarah yang terlalu kaku. Menurutnya, keduanya perlu dipadukan agar menghasilkan pemahaman sejarah yang lebih menyeluruh.

Ia juga menjelaskan bahwa Walisongo merupakan bagian penting dari jaringan intelektual Islam yang melahirkan tradisi pesantren dan memperkuat transmisi sanad keilmuan di Nusantara.

Oleh sebab itu, penelitian mengenai Walisongo perlu dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber, seperti manuskrip Nusantara, kronik Tiongkok dan Portugis, hingga bukti-bukti sejarah lainnya. Bahkan, perkembangan teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk memetakan jejaring intelektual dan penyebaran dakwah Walisongo secara lebih komprehensif.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai sumber sejarah, metode penelitian, hingga perkembangan historiografi Islam di Indonesia. Berbagai pandangan yang muncul menunjukkan tingginya antusiasme peserta untuk memahami sejarah Walisongo secara lebih kritis tanpa mengabaikan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Melalui webinar ini, APSII berharap lahir semakin banyak penelitian yang mampu memperkaya historiografi Islam di Indonesia.

Kajian tentang Walisongo diharapkan tidak berhenti sebagai cerita yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga berkembang menjadi kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga peran para wali dalam sejarah Islam Nusantara semakin dipahami oleh generasi masa kini.

Tinggalkan Balasan