“Tapi setidaknya negara sudah mengakui perjuangan kita. Mbak Marsinah selama ini telah menjadi simbol perjuangan kaum buruh. Menjadi pahlawan mereka. Baru sekarang, negara mengakui kepahlawanan Mbak Marsinah,” ucapan Gus Dur kali ini terdengar serius.
“Tapi semua itu terjadi juga karena Gus Dur, kan?”

“La kok iso, Mbak?”
“Inggih, Gus. Kalau tidak didukung Gus Dur, kalau Gus Dur tidak berdiri di belakang kami, mana berani kami-kami ini dulu bergerak, melalukan perlawanan,” kata Marsinah. “Kami berani melawan karena ada Gus Dur yang akan membela,” Marsinah menegaskan.
Saat itulah, dari kejauhan terlihat Pak Harto berjalan pelan, sendirian, menuju ke arah mereka.
“Wah, ternyata Gus Dur dan Mbak Marsinah ngadem di sini to. Saya baru tahu di sini ada pohon beringin, hmmm,” sapa Pak Harto sambil tersenyum. Pak Harto ikut duduk di sebelah Gus Dur.
“Jenengan ini pura-pura lupa. Kan, Pak Harto yang nanem pohon beringin ini,” sahut Gus Dur sambil menepuk-nepuk paha sendiri.
“He-he-he, Gus Dur masih ingat ya. Saya kira tak ada yang merawat, tapi ternyata dirawat oleh anak-anak itu ya pohon beringin ini,” timpal Pak Harto sambil terkekeh. Marsinah tertegun melihat kedua tokoh ini saling berbalas guyonan.
“Selamat, ya, Pak Harto, sudah jadi pahlawan sekarang,” Gus Dur menyelamati Pak Harto.
“Gus Dur juga, selamat, Gus. Akhirnya kita sama-sama jadi pahlawan. Betul begitu, bukan, Mbak Marsinah?” balas Pak Harto, lalu menatap Marsinah.
Marsinah berusaha menyembunyikan wajahnya yang memberengut, “I-iya, betul, Pak Harto.”
Pak Harto seperti bisa membaca kecamuk yang ada dalam pikiran Marsinah. Sebab, Marsinah terlihat lebih banyak menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya.
“Mbak Marsinah teringat masa lalu ya?” tanya Pak Harto.
