Percakapan Gus Dur, Pak Harto, dan Marsinah setelah Jadi Pahlawan

Agak lama kemudian baru Marsinah mengangkat muka. “Bagaimana saya bisa menuntut balas terhadap seseorang yang telah ditetapkan sebagai pahlawan,” kata Marsinah.

Pak Harto manggut-manggut, tersenyum sebentar, lalu menimpali, “Tak pernah ada perintah yang terucap ataupun tertulis dari saya yang menyebabkan peristiwa itu terjadi…”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Seperti biasa, Mbak. Pak Harto hanya tersenyum, dan begitulah mereka menafsirkan senyum Pak Harto,” Gus Dur sambil leyeh-leyeh memotong ucapan Pak Harto.

“Gus Dur memang waskita,” Pak Harto menimpali.

“Mbak Marsinah tahu tidak, tersebab apa orang-orang seperti Mbak Marsinah dan saya ini dijadikan pahlawan?” tanya Gus Dur.

“Karena perjuangan kita, Gus,” pandangan Marsinah beralih ke Gus Dur.

“Bukan persis seperti itu…”

“Persisnya seperti apa, Gus?”

“Ya karena kita melawan Pak Harto ini, sehingga kita menjadi simbol perlawanan terhadapnya, perlawanan terhadap kebijakannya, perlawanan terhadap sistemnya,” Gus Dur memberi penjelasan.

“Ya, ya, Gus, dan akhirnya kita punya takdir yang sama, punya pusara yang sama, pusara para pahlawan,” kata Marsinah.

“Hmm, iya. Oleh sebab keberadaan saya, Gus Dur dan Mbak Marsinah menemukan medan-medan perjuangan. Itulah jalan kita untuk sampai di sini, di bawah pohon beringin ini. Untung dulu saya menanam pohon ini, he-he-he,” kali ini Pak Harto tersenyum lebar.

“Nah, begitu loh, Mbak, logika berpikirnya. Masa yang menyebabkan kita jadi pahlawan tidak dijadikan pahlawan juga. Kan, lucu…”

“Oh iya, saya izin mau ngaso dulu, Gus, Mbak,” Pak Harto pamit. Marsinah masih membersamai Gus Dur yang kelihatannya nyenyak bersandar di pohon beringin itu.

Tinggalkan Balasan