“Lihatlah, Ibrahim bin Adham adalah hamba Allah swt yang begitu dekat dengan Tuhannya. Tidak akan pernah tertolak doa dari hamba yang sufi ini.” Sebuah suara dari entah.
“Benar sekali. Tetapi kali ini doanya ditolak oleh Allah swt karena memakan sebutir kurma yang masih subhat.” Sebuah suara lainnya menimpali suara yang pertama.

Percakan itu memantik keterkejutan Ibrahim bin Adham. Kini Ibrahim sadar bahwa ketika membeli kurma untuk bekal menunaikan ibadah haji, Beliau mengambil sebiji kurma yang dikiranya sebagai miliknya. Maka Ibrahim begitu menyesal, dan berjanji akan menemui bapak penjual kurma dan memohon kerelaannya.
Dan benar saja, sekembalinya Ibrahim bin Adham dari ibadah haji, serta merta Beliau bergegas pergi ke pasar untuk menemui bapak penjual kurma. Tentu saja niat dan tujuannya adalah meminta kerelaan atas sebiji kurma yang tanpa sengaja dimakannya. Sesampainya di pasar, ternyata bapak penjual kurma telah tiada, meninggal dunia. Dan pengganti bapak penjual kurma tersebut adalah salah satu dari putranya.
“Aku mohon kerelaan atas sebiji kurma yang telah aku makan,” demikian Ibrahim bin Adham berkata kepada anak penjual kurma itu sambil berkisah tentang kurma yang diambilnya.
