“Tidak apa-apa, Tuan. Aku rela terhadap apa yang telah Tuan ambil tersebut,” jawab anak si penjual kurma. “Tetapi,…” ia melanjutkan, “Aku punya 11 saudara yang aku tidak tahu dari masing-masing saudara tersebut, apakah mereka rela atau tidak,” lanjutnya.
“Tidak masalah, tunjukkan kepadaku alamat rumah mereka semua,” begitu Ibrahim bin Adham bertekat demi mendapat kejelasan atas kerelaan sebiji kurma yang dimakannya.

Meski dengan susah payah, karena rumah para ahli waris bapak penjual kurma itu berjauhan, akhirnya Ibrahim bin Adham pun dapat memenuhi keinginannya. Semua anak-anak bapak penjual kurma itu merelakan sebiji kurma yang tanpa sengaja dimakan oleh Ibrahim. Dan hal tersebut menunjukkan kewaraan dan kehati-hatian seorang sufi terhadap hal-hal yang secara umum dipandang remeh temeh.
Begitulah karakter seorang sufi. Tidak pernah mementingkan dunia meskipun mereka dalam keadaan kaya raya. Artinya sufi tidak identik dengan kemiskinan, apalagi dengan kemewahan, akan tetapi sufi menempatkan akhirat, di atas segala-galanya, daripada kehidupan dunia. Wallahu A’lam!
