Perginya Sang Singa Podium

Perpindahan dari Madura dan Jawa Timur ke Jakarta mempertemukannya dengan masyarakat yang lebih majemuk, kehidupan perkotaan yang kompleks, dan dinamika politik yang berbeda. Jakarta bukan sekadar tempat memperluas jangkauan dakwah, melainkan juga ruang tempat persoalan umat Islam bertemu dengan birokrasi, ekonomi, pendidikan, organisasi masyarakat, dan kekuasaan negara.

Dalam konteks itulah, perjalanan Kiai Syukron menjadi relevan untuk dibaca sebagai bagian dari sejarah dakwah Islam Indonesia. Ia tidak memilih untuk membatasi pengabdian pada ruang kelas atau forum keagamaan tertentu. Ia mendatangi masyarakat, berbicara di hadapan jamaah, dan membangun hubungan dengan beragam kalangan. Dakwah baginya menjadi jalan pengabdian yang harus terus bergerak mengikuti kebutuhan umat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Daarul Rahman: Warisan yang Abadi

Salah satu peninggalan paling nyata dari perjalanan KH Syukron Ma’mun adalah Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang didirikannya pada 1975 bersama sejumlah rekan seperjuangan.

Pendirian pesantren ini memiliki arti penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Jakarta. Di tengah pertumbuhan ibu kota yang semakin cepat, pesantren menyediakan ruang bagi pendidikan agama yang berakar pada tradisi ulama, sekaligus membentuk generasi muda yang memiliki disiplin, pengetahuan, dan identitas keislaman.

Daarul Rahman bukan sekadar bangunan tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar. Ia merupakan pelembagaan dari keyakinan bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada suara seorang penceramah. Dakwah harus menjelma menjadi proses pendidikan yang berlangsung terus-menerus, membentuk manusia, dan melahirkan generasi yang dapat meneruskan pengabdian.

Mimbar memiliki jangkauan yang luas, tetapi pengaruhnya sering kali bergantung pada momentum dan kemampuan pendakwah untuk menjangkau jamaah. Pesantren menawarkan sesuatu yang berbeda: hubungan guru dan murid yang berkelanjutan, pembelajaran yang terstruktur, pembentukan kebiasaan, serta pewarisan tradisi keilmuan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di sinilah letak arti strategis Daarul Rahman dalam perjalanan Kiai Syukron. Ia tidak hanya mengumpulkan jamaah untuk mendengarkan ceramah, tetapi juga membangun institusi yang memungkinkan ilmu dipelajari, diperdebatkan dalam batas-batas tradisi keilmuan, dan diamalkan dalam kehidupan.

Para santri yang pernah belajar kepadanya menjadi bagian dari warisan yang tidak dapat diukur hanya melalui jumlah bangunan atau lamanya masa kepemimpinan. Mereka membawa pengalaman pendidikan, ingatan tentang nasihat guru, serta bekal keagamaan ke dalam keluarga, masyarakat, profesi, dan ruang pengabdian masing-masing.

Bagi seorang pendiri pesantren, keberhasilan paling mendasar bukanlah ketika namanya terus disebut, melainkan ketika lembaga yang dibangun tetap mampu menjalankan fungsi pendidikan setelah dirinya tiada.

Karena itu, wafatnya Kiai Syukron seharusnya menjadi momentum untuk memikirkan masa depan Daarul Rahman secara lebih serius: bagaimana tradisi keilmuannya dipelihara, bagaimana kualitas pendidikannya dikembangkan, bagaimana hubungan guru dan santri tetap terjaga, serta bagaimana pesantren dapat menjawab persoalan generasi baru tanpa kehilangan akar tradisinya.

Tinggalkan Balasan